Flashback Cerita Kuliah Kerja Nyata : Kuliah Sambil Kerja Hingga Terkena Demam Berdarah



Setiap orang pastinya punya (minimal) satu fase hidup yang berat, yang bikin nangis bombay dan rasanya pengen ngeskip aja satu fase hidup yang nyebelin itu, lalulangsung loncat ke skenario hidup selanjutnya. Sayangnya sih hidup nggak bisa dijalani suka-suka. Kita harus ngerasain sedih untuk bisa menghargai senang. Harus bisa merasakan susah, untuk kemudian bisa bersyukur atas kemudahan.

Beberapa tahun lalu, saat masih kuliah, aku nekat untuk mengambil tawaran kerja sebagai penyiar pengganti di radio induk tempatku bekerja hingga sekarang. Bukan tanpa pertimbangan. Aku tau kalo sekedar kuliah aja udah capek, karena jurusan yang aku ambil sering banget nyuruh mahasiswa/i-nya buat kencan sama laporan-laporan super tebal yang merupakan refleksi dari praktikum-praktikum yang rasanya kok ya tak berkesudahan. Tapi waktu itu aku mikir, kesempatan bagus datang untuk diambil, bukan untuk dibiarkan berlalu lantas disesali. Lagipula, nggak semua orang beruntung bisa kerja di bidang yang dicintainya.



Ternyata kuliah sambil kerja nggak semengerikan yang aku bayangkan. Terlebih karena pekerjaannya itu ‘Intan banget’, aku nggak ngerasa terbebani sama sekali. Capek sih jelas, tapi rasa happy karena suara aku udah bisa dijual dan menghasilkan pundi-pundi rupiah dengan nominal lumayan untuk anak kost, lebih mendominasi. Yah gimana nggak, biasanya sekedar ngandalin uang kiriman orangtua yang pas buat makan sama biaya transportasi. Pas udah kerja, bisa lah beli sepatu sendiri, nraktir temen nongkrong di kedai surabi, beli buku-buku bagus yang baru aja rilis. Pokoknya happy!

Hingga kemudian ..

Tiba lah aku di jeda semester yang mengharuskan mengambil ‘kuliah kerja nyata’ alias KKN. Aku cemas dong. Gimana kalo dapat lokasi KKN yang jauh dari pusat kota, coba? Alamat harus memilih salah satu antara KKN sama kuliah kan? Ih nggak mau milih. Aku mau dua-duanya. Mau kuliah beres, mau kerjaan jalan terus. Makanya aku coba buat ngurus lokasi KKN ke panitia. Berharap bisa dapat lokasi yang deket sama pusat kota, deket sama kantor.

Berhasil?

Nope! Udah pake jurus mengiba-iba dibumbui derai air mata, udah bawa surat rekomendasi dari tempat kerja, udah lobi-lobi dengan intense.. semuanya failed! Aku hanya bisa pasrah saat tau kalo lokasi KKN-ku harus ditempuh dengan waktu 3 jam bolak balik dari kantor. Hore! *nangis di pojokan kost

Lobi-lobi lokasi gagal, aku nyoba minta izin sama dosen pembimbing selama KKN, izin buat tetap siaran di hari-hari tertentu. Alhamdulillah dosennya baik banget, aku diizinin buat pergi bolak balik siaran asal ga ganggu program-program di sekre KKN.

Tapi . .

KKN emang ga mudah. Mana lah harus tinggal di sekre yang kumuh – beneran kumuh, semacam rumah warga yang udah lama ga dihuni, ga ada WC, sekedar ada sumur buat mandi dan nyuci dengan air yang berwarna .. cokelat muda. Alamak! Ditambah lagi dengan asupan makanan yang ala kadarnya. Menu makanan berkisar di lingkaran mie instan rebus – mie instan goreng – sambal telur – sambal sarden. Udah. Mutar-mutar gitu aja. Namanya juga uang makannya hasil patungan. Semurah mungkin untuk sebanyak mungkin porsi makanan yang bisa didapatkan. Jangan sampe protes kalo nggak mau dibully sebagai‘anak manja yang sok kaya!’ nyahaha *temen aku si Ayu dimusuhin dan dibully gara-gara nggak bisa makan mie instan. Padahal emang nggak bisa makan, karena dia punya penyakit maag

Dan akhirnya ..

Kombinasi badan yang capek, lingkungan tempat tinggal yang kumuh dan makanan yang nggak bergizi, dengan sukses bikin aku tumbang. Aku terkena Demam Berdarah dan harus dilarikan ke salah satu Rumah Sakit swasta di Bengkulu Utara. Disuntik berulang kali, harus nelan obat yang nggak sedikit, harus jaga makanan, harus jaga badan biar ga terlalu capek. Hiks. Ngerasa rugiiii banget harus merelakan beberapa hari hanya dengan tergolek lemah di tempat tidur. Harus izin siaran, harus izin KKN. Pahit!

Dengan kondisi yang waktu itu aku alami memang rentan banget terkena penyakit demam berdarah dengue alias DBD yang ditularkan melalui perantara nyamuk Aedes aegypti. FYI, jentik nyamuk jenis ini hobinya nongkrong cantik di air yang nggak mengalir, air yang kumuh, air yang nggak mengalir. Pokoke dia hobi main air. Engg .. maksudnya menjadikan air sebagai media berkembang biak. Aku yakin banget, air berwarna cokelat muda di sumur sekre KKN kami penuh dengan jentik nyamuk yang berhasil bikin aku jatuh sakit.

Dengan penanganan yang cepat dan tepat, meski menyiksa, tapi demam berdarah bukan penyakit mematikan. Tapi beda cerita jika anak terkena demam berdarah. Dalam kasus yang ringan, mungkin gelaja yang dirasakan hanya berupa demam, nyeri, dan sampai ke tahap sakit kepala disertai mual dan muntah. Namun dalam kasus lain yang lebih berat, gejala bisa saja mengakibatkan kebocoran pembuluh darah juga jumlah trombosit yang menurun drastis *waktu itu aku disaranin minum jus jambu biji buat naikin kadar trombosit.

Kalo ngerasa udah perlu ditangani serius, jangan ragu buat ke rumah sakit, biar bisa dilakukan pengecekan darah juga mendapatkan penanganan lanjutan. Sakit itu nggak enak banget loh. Nggak enak banget. Beneran! Makanya sebelum sakit, harus ditanamkan bener-bener untuk melakukan pola hidup sehat, baik dari segi menjaga lingkungan tetap bersih, maupun menjaga asupan makanan yang kita konsumsi. Untuk informasi lebih komplit mengenai DBD dan cara penanganannya bisa mampir ke blog informasi kesehatan.  


Mira A Udjo, Blogger Jakarta Pemilik Blog Kakira


Mira Arvianty Udjo

Pertama kali aku mendengar nama blogger Jakarta satu ini yakni setahun lalu. Saat aku mengikuti giveaway yang diselenggarakan di blog Mbak Mira, giveaway awal yang baru. Waktu itu aku menuliskan seputar pengalaman awal yang baru aku jalani sebagai anak rantau di Kota Bintuhan, kabupaten paling pinggir selatan Provinsi Bengkulu yang berbatasan langsung dengan Lampung. Berkat tulisan galau itu, aku memenangkan sebuah powerbank HK Power Tube yang sampai sekarang masih setia dipakai. Awet. Makasih Mbak Mira.


Kalo ditelisik dari gaya blogpost juga dari cara Mbak Mira mengelola sosmed, terlihat sekali kalo Mbak Mira bukan blogger kemarin sore. Tahun 2009 adalah tahun pertama Mbak Mira terjun ke dunia perbloggeran. Jelas, bukan waktu yang sebentar.

Namun pada April 2015, blognya sempat mengalami trouble – server crash, dan membutuhkan waktu lama untuk pulih. Baru lah di November 2015, Mbak Mira memulai lagi dari awal dengan pageviews dan statistik yang katanya waktu itu posisinya sudah jungkir balik, lewat blog kakira.my.id. Semangat Mbak Mira perlu diacungi jempol. Memulai barangkali mudah. Tapi saat mampu bangkit ketika sempat jatuh, itu yang luar biasa.




Setahun kemudian, yakni di November 2016 kemarin, Mbak Mira melaunching blog lain yakni rachanlie.com. Berbeda dengan blog Kakira yang lebih banyak bercerita tentang 2 putri kecilnya yakni K1 dan K2, blog Rachanlie isinya lebih personal. Oh iya, Mbak Mira ini selain dikenal sebagai Mira A. Udjo juga dikenal dengan branding Rachanlie yang baru-baru ini aku tau kalo itu singkatan dari Mira Chantiqu Sekalie. Hoho. Ada-ada aja deh Mbak Mir. Tapi emang doi ini blogger mom cantik yang sering OOTD-an di instagramnya.

Mbak Mira memang menggunakan nama Rachanlie sebagai branding di instagram. Udah, jangan bingung lagi. Mira A Udjo dan Rachanlie itu adalah orang yang sama. Hoho. Foto-foto di feed instagram Mbak Mira, cantik-cantik. Memperlihatkan aktivitas Mbak Mira sebagai lifestyle blogger yang sering menghadiri acara blogger. OOTD-nya juga manis, berpadu dengan make-up yang simpe namun terlihat pas di wajah Mbak Mira.

Pssttt, Mbak Mira bisa sekece ini juga karena dukungan suaminya, Pak Udjo loh. Gimana nggak, Pak Udjo yang jadi fotografer pribadi Mbak Mira. Pak Udjo juga ringan memberi izin ketika Mbak Mira mau menghadiri event-event blogger yang keren itu. Saling mendukung deh pokoknya. So sweet kalo kata Jikustik.


Lucky you, Mbak Mir!




Rasa-rasanya resign dari dunia kerja beberapa tahun lalu juga bukan masalah bagi Mbak Mira, karena sekarang dia sudah menemukan tempat lain untuk bersinar. Tempat untuk menyalurkan hobi dan sarana untuk berbagi. Lewat blogging dan fotografi.

Lewat blogpost Mbak Mir di Kakira, aku jadi tau kiat-kiat seputar selfie. Waiyaa ada kiatnya dong. Udah bukan zamannya lagi selfie ngasal lalu diupload seabrek-abrek ke sosmed. Bisa kabur dong nanti followers. Nah, kalo mau selfie harus diperhatikan cahaya, backround, angle yang tepat posisi pengambilan selfie juga editing. Tapi tetep ya, mau sebagus apa pun hasil selfie, Mbak Mira bilang jangan keseringan cekrek – upload – cekrek – upload, bisa-bisa orang bosan. Jadi harus dikombinasikan dengan foto-foto lain.




Nah, buat yang mau kenal lebih dekat sama Mbak Mira, buruan mampir ke blognya, sekalian kepoin instagramnya juga. Bisa banget jadi referensi pas mau OOTD-an loh! :)

Tips Belajar Jualan Online ala Intan







Kalo udah merencanakan keuangan apalagi merencanakan kebebasan finansial, mau nggak mau kepala jadi sedikit pusing. Gimana nggak, buat aku yang single ini aja, ternyata kebutuhan yang harus aku penuhi itu banyak. Banyak banget tepatnya! Mau nggak mau, suka nggak suka, aku harus mulai nabung untuk biaya beli rumah layak huni beberapa tahun lagi. Aku emang berencana beli rumah secara cash, nggak ngutang bank. Meski mungil, yang penting hidup tenang karena nggak dikejar-kejar hutang. Menurut perhitungan matematika sederhanaku, dengan menabung dengan sangat giat, rumah impian itu baru bisa dibeli .... 4 tahun lagi *masih lama banget jadi anak kost, kecuali ada yang ngelamar & doi udah nyediain rumah. Haish kode macam apa ini. haha

Selain itu, menurut artikel keuangan yang aku baca, setiap orang tak terkecuali single, harus menyiapkan dana darurat. Besarnya 6 kali dari biaya bulanan yang biasa kita keluarkan. Misalnya nih, aku butuh 2 juta untuk bertahan hidup setiap bulannya, itu artinya aku harus punya dana darurat minimal 12 juta rupiah. Ish, repotnya! Di akhir bulan masih bisa makan nasi ayam aja padahal udah oke banget kan ya? hihi.

Tapi kalo dipikir-pikir lagi, dana darurat ini emang statusnya URGENT maksimal. Kita nggak pernah tau apa yang terjadi esok hari, mending kalo dikasih skenario hidup yang cakep atau minimal tenang-tenang aja tanpa gejolak. Tapi kalo semisal jobless mendadak, ngana pikir gimana caranya biar tetap bisa bertahan hidup 6 bulan ke depan sambil tetap mikir jernih?

Btw. Ehem. Setahun lalu, aku hampir aja resign karena ... ada lah ya. ehe. Ehe. Makanya aku sepakat banget kalo yang namanya dana darurat itu supermoon. Eh maksudnya super duper penting. Ini juga bakal menjaga kita dari pikiran yang nggak bisa lepas dari duit, duit, duit.

Itu baru 2 hal yang harus dipikirin, belum lagi biaya hidup per bulan, budget buat beli buku, tabungan buat biaya travelling setahun sekali, sampai ke hal-hal receh macam duit buat isi kuota internet sama pulsa listrik. Rempong ya cin! Untuk semua kebutuhan itu, pundi-pundi rupiah yang dianggarkan harus pas, biar resolusi beli rumah dan penyediaan dana darurat bisa terwujud.

Dan masalahnya adalah aku sama sekali nggak suka kalo menabung untuk hidup yang nyaman di masa depan, harus mengorbankan kesenangan di masa sekarang. Ya kali gara-gara nabung, akunya ga bisa lagi jajan buku setiap bulan kan ga asyik! Makanya, alih-alih memperketat pengeluaran, aku lebih memilih menambah pemasukan dengan belajar jualan online.

Di beli ya sist! *lol

Sebagai langkah awal, aku nyoba jadi reseller salah satu produk sari lemon. Aku buka lapak dagangan di BBM karena aku belum rela kalo media sosial yang sudah aku rawat baik-baik dialih-fungsikan untuk dijadikan lapak jualan. Aku yang biasanya ganti DP dan berkicau di PM BBM pun menyediakan waktu untuk update jualan setiap 3 kali sehari pake promo-promo yang sebisa mungkin heart selling. Nggak langsung bablas promo tok.

Terus laku?

Laku beberapa pouch dong. Meski untungnya cuma cukup buat beli pulsa litrik jatah sebulan, tapi ga masalah lah, namanya juga baru belajar. Lagian kalo seminggu jualan sari lemon terus langsung bisa beli rumah, aku bisa berencana resign lagi ntar dari kantor. Nyahaha.

Dan menurutku, ada beberapa tips jualan online shop yang harus diterapkan. Pertama, kenali produk. Iya lah. Kalo ga kenal produk dengan baik, gimana mau promosiin ke pembeli, ya kan? Aku awalnya tertarik buat konsumsi pribadi si sari lemon ini karena khasiatnya banyak banget buat tubuh. Tapi alasan utamanya ya karena alasan kepraktisan. Di Bintuhan sini ga ada jualan lemon masa. Oke lah bisa ganti pake jeruk nipis yang unggul dalam soal harga dan lebih segar, tapi kan repot kalo tiap pagi harus ngiris-ngiris si jeruk nipis. Aku pilih yang praktis, soale aku sibuk. *ghaya!

Kedua, harus sabar. Nggak semua yang tanya-tanya bakal beli, ada yang hobinya nanya doang atau memang pengen nguji kesabaran. Haha. Bayangkan, udah jelas banget waktu itu aku jualan sari lemon kan, terus si T ini nanyain soal kopi 1001. Kan aku sedih! Terus ya, yang namanya jualan ga melulu laku. Kadang ada hari-hari tanpa pembeli, kadang juga ada hari-hari di mana jualan kita laris manis. Kuncinya sabar.

Ketiga, jaga kepercayaan konsumen. Bisa dengan cara kasih kabar kalo pesenannya udah dikirim, kasih kabar pas uang transferannya masuk, juga cepat tanggap ketika calon pembeli sibuk tanya-tanya. Eh tapi omong-omong soal kepercayaan konsumen, sekarang ini ada layanan uang elektronik alias e-money yang dilaunching oleh pihak Indosat, namanya Dompetku Plus. Dengan menggunakan layanan ini pembeli bisa berbelanja online dengan mudah dan aman. Nggak bakal ada resiko uang transferannya dibawa kabur sama penjual nakal deh.



Selain itu, buat penjual, Dompetku Plus ini juga ngasih banyak keuntungan. Di antaranya, saat kita udah terdaftar sebagai merchant Dompetku Plus, brand kita bakal otomatis dikenal oleh 70 jutaan pelanggan Indosat Ooredoo. Dompetku Plus juga bantu mempromosikan bisnis kita melalui iklan di berbagai media. Terus nih ya, karena sistem Dompetku Plus ini terintegrasi dengan online shop, si penjual akan diberi kemudahan untuk menggunakan layanan smart ePayment. Dan tentunya ada juga catatan transaksi yang mudah diakses untuk memastikan pembukuan bisnis si penjual tertata dengan baik.

Asyik banget kan ya?

Aih, jadi semacam pengen punya brand usaha sendiri, bukan jadi reseller lagi. Ada yang punya ide, bagusnya Intan jualan apa ya? Buku? Makanan? Atau tetep jualan suara kayak sekarang? :p




Tahun ke-4 Menjadi Penyiar Radio







Aku nggak pernah menyangka kalo keputusan buat gabung jadi bagian sebuah radio kampus beberapa tahun lalu, akan membawa aku sampai ke titik ini. Sebuah titik di mana cuap-cuap di box siaran bukan lagi hanya sebatas hobi, melainkan udah jadi pekerjaan buat beli sebungkus nasi. Aku ada di sini sekarang, meski Intan kecil nggak pernah bercita-cita buat jadi penyiar radio. Nope!

Bukan karena aku menganggap bahwa jadi penyiar itu nggak keren atau nggak layak dimasukkan dalam list cita-cita. Tapi memang di keluarga besar kami, profesi yang dijalani nyaris homogen : kalo nggak guru, ya jadi pegawai kantoran yang pergi jam 8 pagi, pulang jam 5 sore itu. Jadi, aku ini semacam ngasih warna baru di jenis-jenis pekerjaan anggota keluarga : penyiar radio.

Bukan tanpa drama, pernah diancam nggak boleh balik ke rumah lagi, nggak bakal dikasih uang jajan, bahkan diancam nggak dibolehin lanjutin kuliah. Hehe. Karena di mata orangtua aku, siaran di radio itu sama sekali bukan sesuatu yang layak diseriusi, emang bisa gitu nyari makan dari jualan suara di box siar?

Nyatanya bisa. Sangat bisa!





Tapi nggak instan. Sama lah kayak aku membangun blog ini. Setahun dua tahun, jalannya masih remang-remang, belum jelas mau dibawa ke mana, mau dijadikan apa. Tahun ketiga, sinar benderang mulai pelan-pelan menyinari. Kalo sabar, apa sih nggak bisa didapetin?

Aku memulai langkah di dunia broadcasting beneran dari NOL besar. Kayak yang aku bilang tadi, nggak ada satu pun anggota keluarga kami yang kerja di ranah media, apalagi radio. Aku suka dengerin radio dari SMP. Belajar siaran secara otodidak. Ikut pelatihan yang diadakan radio di kampus, lantas kemudian siaran perdana di sana. Masuk radio swasta. Ikut kompetisi penyiar di radio tempat aku bernaung sekarang. Lalu diterima jadi salah satu angkasawati dan siaran dengan segala manis asem asinnya.

Drama sih selalu ada lah ya. Apalagi waktu kaki masih di dua tempat berbeda. I mean, aku masih kuliah loh itu waktu mulai kerja di radio tempatku sekarang. Sempat kena typus pas KKN (kuliah kerja nyata) karena energi dan fokus terbelah di dua kegiatan : ngurusin KKN sama ngurusin kerjaan. Atau pas baru kelar ujian proposal skripsi dan lagi di masa sibuk, aku justru nerima SK buat pindah ke kota kabupaten di pojokan selatan Bengkulu. Kelar drama-dramaan soal kuliah dan kerja, drama lain mengalihkan perhatian. Galau lagi lihat teman-teman yang lanjut S2 Fisika (iya, aku kuliah S1 kemarin jurusan Pendidikan Fisika, ga ada kaitan sama sekali dengan dunia broadcasting hihi), sedangkan aku dari tahun ke tahun hanya berkutat di box siar bertemankan mixer dan microphone.

Ada semacam perasaan, ‘masa sih aku gini-gini aja?’

Atau malah ‘aku cepak kerja! Temen aku enak banget, dibiayain kuliah S2 sama orangtuanya!’

Manusia manusia! Pas belum dapat restu orangtua buat siaran, aku setengah mati jungkir balik meyakinkan kalo radio adalah tempat paling pas buat aku. Pas masih kasrak kusruk menyelesaikan kuliah, aku berdoa mati-matian biar bisa lepas dari jerat Fisika selamanya. Justru saat aku punya waktu lebih untuk mendedikasikan diri buat radio (uhuk), aku malah semacam kehilangan energi, sempat kehilangan keyakinan buat kerja di radio selamanya pula.

Up and down.

Wajar lah ya. Balik-balik lagi, aku curhat ke orangtua, tentang kegelisahan akan masa depan, tentang kerjaan aku yang jamnya nggak bisa ngikutin jam kantor pada umumnya. Tentang rasa sedih karena udah berkali-kali nggak bisa ikut lebaran bareng atau menikmati tanggal-tanggal merah seperti pekerja lainnya. Konsekuensi kerja di media. Sempat loh aku minta tiket S2 di Jogja aja saking capek kerja. Haha. Tapi itu nggak lebih dari emosi sesaat. Aku yakin, di relung hati paling dalam, aku memang cinta sama pekerjaan ini.

Aku mengisi ruang kosong bernama sepi. Entah itu di hati, entah itu di mimpi, entah itu diperjalanan panjang yang membosankan. Aku menemani jiwa-jiwa yang tengah patah hati, juga menyemarakkan hati yang ditengah dibuai cinta. Tentang suaraku di udara, adalah tentang menjadi teman dekat bagi siapa saja. Karena setiap telinga harus diistimewakan, bukan?

Di dunia nyata, aku nggak pernah menyembunyikan identitas bahwa aku adalah orang yang kerja di radio sebagai penyiar. Meski ada pula tipe-tipe penyiar yang lebih suka orang-orang nggak tahu kalo mereka penyiar. Takut mengecewakan fantasi pendengar ketika mereka tahu bahwa suara empuk yang mereka kagumi setengah mati, ternyata milik seseorang yang jauh dari bayangan.

Aku malah sebaliknya, menikmati saat kenalan sama orang-orang yang lebih dulu ‘kenal’ aku lewat suara, lalu kenalan di dunia nyata. Biasanya mereka bakal kaget. Karena di bayangan mereka, Intan itu bukan dalam wujud cewek berpipi tembem dengan tinggi 150 cm saja, melainkan tinggi semampai dengan wajah tirus menggoda. Haha. Sialan memang! *maafkan aku yang merusak fantasi-fantasi nakal kalian wkwk

Di blog ini, aku lumayan sering menulis tentang radio, di bio media sosial aku juga selalu mencantumkan embel-embel ‘radio announcer’, di motor yang aku pakai pun ada aksesoris motor berupa sticker radio tempatku bekerja. Meski saat kecil, jadi penyiar radio nggak masuk list cita-cita, setelah nyaris 4 tahun mencari makan lewat suara yang meyapa di udara, aku punya porsi cinta yang besar untuk profesi ini. Profesi pertama yang aku lakoni dengan penuh perjuangan untuk sampai ke titik ini.

Drama itu pasti ada. Rasa bosan juga pasti pernah melanda. Jalan cerita juga nggak tertebak. Bisa jadi esok hari ada goresan takdir yang menuntunku untuk jadi guru Fisika, untuk jadi full time blogger, untuk jadi PNS di perpustakaan daerah (selain radio, aku cinta buku-buku pake bangeeet!), untuk jadi ...  pendamping hidup kamu barangkali? Eh. Haha. Duh, Intan gagal fokus!


Nggak ada yang tahu pasti apa yang akan terjadi di hari esok, memang. Tapi selama aku masih punya kesempatan untuk jadi angkasawati yang baik dan benar, aku nggak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan itu. Lagi pula, hukum alam ini masih berlaku kan? Bahwa semesta tidak akan pernah salah menempatkan seseorang pada tempat yang memang layak ditempatinya. Just do your best!