Pernah nggak sih, lagi asyik scrolling YouTube, terus ketemu sebuah karya yang bikin kamu berhenti sejenak? Bukan cuma karena nadanya, tapi karena ada "nyawa" yang terasa sangat kuat di dalamnya. Itulah yang aku rasakan saat pertama kali menyimak "Reinkarnasi", karya dari musisi muda, Bintang Putra Sugiatno.
Sebagai seorang milenial yang cukup selektif soal playlist, aku menghargai kejujuran dalam sebuah karya. "Reinkarnasi" bukan sekadar lagu, melainkan sebuah keberanian dari seorang remaja untuk mengangkat tema yang berat dengan aransemen yang megah.
"Berjanjilah di kehidupan selanjutnya kita akan bersama. Aku bersumpah, bulan, meski harus melintasi 1000 kehidupan, aku akan tetap mencarimu."
Kalimat ini terasa sangat personal bagiku. Mengingatkan pada mendiang Bapak yang berpulang dua tahun lalu. Bintang berhasil mengemas konsep reinkarnasi, yang bagi sebagian orang mungkin terdengar mistis, menjadi sebuah simbol cinta dan kerinduan yang abadi. Bahwa perpisahan di dunia bukanlah akhir dari segalanya.
Yang bikin aku kaget adalah fakta bahwa Bintang baru berusia 16 tahun. Di usia semuda itu, ia sudah bertindak sebagai komposer, penulis lagu, sekaligus arranger.
Dalam proses kreatifnya, Bintang mengerjakan hampir semua instrumen secara mandiri di studionya, mulai dari beat drum hingga bagian tersulit seperti instrumen keyboard. Ia berani bereksperimen dengan notasi yang tidak "pasaran" untuk musisi seusianya. Bagian reff-nya pun membawa pesan pembebasan, bahwa mereka yang telah pergi kini berada di dimensi yang lebih baik dan indah.
Selain musiknya, ada hal yang juga bikin aku kagum, yaitu dukungan keluarga Bintang.
Antika Lestari, kakak perempuan Bintang menjadi support system utama sekaligus mengisi backing vocal.
Pak Heru Sugiatno, ayahnya Bintang, sebagai sesama musisi, beliau menunjukkan sikap bijak dengan tidak memaksakan ego. Beliau membiarkan Bintang mengeksplorasi idealismenya sendiri namun tetap siap mendampingi.
Ini adalah parenting goals yang nyata. Di zaman sekarang, sangat penting bagi orang tua untuk tidak mematikan mimpi anak dengan kalimat, "Sudahlah, sekolah saja yang benar, nggak usah aneh-aneh!"
Melihat keluarga Bintang, aku belajar sebagai ibu dari anak laki-laki berusia 2 tahun. Tugas kita bukan membentuk anak sesuai keinginan kita, tapi menyirami benih bakat mereka agar tumbuh rimbun. Bintang bisa menciptakan karya semegah ini karena ia merasa "aman" dan dirayakan di rumahnya sendiri.
Meskipun setiap orang memiliki selera musik yang berbeda, tapi menurutku "Reinkarnasi" adalah sebuah pencapaian luar biasa bagi musisi muda. Bintang sempat ragu apakah generasinya (Gen Z) bisa menerima tema ini, namun menurutku, musik adalah bahasa universal.
"Reinkarnasi" adalah tentang koneksi manusia yang tidak pernah putus. Ini adalah tentang bagaimana seorang remaja bisa merangkum kehilangan dan harapan menjadi harmoni yang menenangkan.
Sukses terus untuk Bintang Putra Sugiatno!



No comments
Makasih udah baca, tinggalin jejak dong biar bisa dikunjungin balik ^^