Featured Slider

Teruntuk Kamu yang Tidak Diizinkan Jatuh Sakit



Jarum jam tepat menyentuh angka tiga. Pukul tiga petang. Aku panik, keringat dingin tanpa terasa mulai membasahi pelipis, kondisi perut yang melilit nampaknya juga tidak membaik. Aku berhitung dengan kalut. Sore itu, pesawat yang akan membawaku menghabiskan weekend di Palembang untuk mengikuti workshop akan terbang pukul setengah tujuh petang. Oke baik, aku masih punya waktu untuk bersiap.

Get well soon, tummy..

Get well soon, tummy..

Get well soon, tummy ..

3 Syarat Menjadi Perempuan Cantik Tanpa Tapi, Tanpa Nanti



Semua wanita pasti ingin terlihat cantik, tanpa pengecualian. Tua muda, menjadi cantik adalah kebanggaan. Namun sungguh, cantik fisik saja tidak cukup berarti di era sekarang ini. Kalo nyari yang sekedar cantik aee, mungkin bakal bingung saking banyaknya euy. Tapi kalo ngomongin cantik fisik juga cantik hati. Wah, itu baru paket combo. Apa dong syarat agar bisa jadi perempuan yang cantik dengan paket keseluruhan? Here we go.

1. Berkarakter & bisa diandalkan

Yap. Perempuan cantik tentu tau caranya bersikap, menghadapi sesuatu & mencari solusi jitu setiap ada masalah. Alih-alih mengeluh saat tersandung rintangan, karakter kuatnya justru timbul ke permukaan. Dengan karakter yang oke punya, perempuan juga tidak gampang terombang ambing di tengah perubahan zaman. Lihat cewek lebih mulus, eh minder. Lihat cewek lain yang kerjaannya lebih mentereng, eh malah baper. Haduh. Perempuan yang berkarakter & bisa diandalkan, tentu tak mudah merasa insecure saat melihat kelebihan perempuan lain. Karena dia merasa punya power di sisi lain. Minder? Nggak lah yau. Suka ikut-ikutan perempuan lain yang (menurutnya) lebih tinggi? Wooo enak aeee!

Kerja Keras Hari Ini, Untuk Menunaikan Mimpi di Esok Hari



“Wah. Gila bener nih Kak Pungky, udah jalan-jalan ke Kota B aja. Perasaan kemarin baru ke Kota Y deh. Kan main. Giliran aku kapan ya? Hmm hmm hmm..”

Ada satu masa aku begitu envy melihat media sosial Kak Pungky Prayitno – blogger senior *ciee yang waktu itu sedang sering-seringnya travelling dari satu tempat cantik ke tempat cantik lain di Indonesia. Berdasarkan hasil kepo-kepo bacain blognya, I know kalo semua itu didapetin dari satu hal : blogging. Blogging udah buka banyak kesempatan buat Kak Pungky. Blogging udah membawa dia melangkah lebih jauh. Aku pengen begitu juga? Banget! Aku juga ingin suatu hari nanti bisa travelling ke sana sini, pure dari hasil ngeblog. Sounds ambisius ato halu? xD

Lalu, bulan berganti, tahun berganti. Ada saat-saat di mana frekuensi ngeblogku turun sampai ke titik terendah – hiatus hingga berminggu bahkan berbulan. Namun, di lain waktu, aku menepikan rasa bersalah dengan mengeluarkan energi untuk ngeblog dengan ritme yang kencang. Membalas waktu-waktu  di mana aku tidak bisa menyentuh dashboard blog sama sekali. Meski tertatih, aku masih terus ngeblog hingga kini. Meski kadang lelah, aku tau benar kalo aku tidak ingin menyerah lalu kalah. Tidak. I’ll survive on this.

Budaya Sensor Mandiri Dimulai Dari Diri Sendiri


Budaya Sensor Mandiri Dimulai Dari Diri Sendiri
Pict milik penulis dari kegiatan Talkshow Blogger Bengkulu bersama Lembaga Sensor Film

“Intan sibuk gak sore ini? Temenin aku nonton Crazy Love yuk! Kita nonton bertiga sama Adit.”

Di suatu sore aku menerima pesan WA dari sahabat zaman kuliah, ajakan nonton film drama komedi romantic as always, sesuai genre favorit kami. Tentu aku tidak keberatan, apalagi Crazy Love (disamarkan) adalah film yang diangkat dari sebuah novel bestseller. Baca review yang sudah cukup banyak bertebaran pun, bikin aku semakin semangat untuk menonton film itu. Tapi WAIT, nontonnya beneran ngajakin si Adit, adeknya temenku itu? Wah, ndak bisa gaes. Adit baru berseragam putih merah, sedangkan di Crazy Love adegan kipas-kipasnya cukup banyak. Jahat banget rasanya kalo bikin si Adit ‘dewasa’ sebelum usia.

“Beb, adekmu kita ungsikan dulu gapapa? Titip di rumah nenek, boleh? Atau kalo gak ada tempat nitip, kita nonton film lain aee yang bisa ditonton semua usia.”