Featured Slider

Review Seri Benda Langit Bercerita : Bulan (Erlita Pratiwi)

 


Kalau bukan karena sudah dicekoki buku bacaan sejak kecil, boleh jadi kecintaanku sama buku gak akan sebesar sekarang. Dulu, pas pertama kali bisa baca umur 4 tahunan, sering banget dibeliin buku yang lucu-lucu. Di mana banyakan gambar, dibanding tulisannya, itu pun singkat-singkat. Tapi rasa cinta buku rasa-rasanya berawal dari masa itu. Lalu semakin tumbuh dan berkembang saat mulai kenal & langganan majalah Bobo, majalah kesayangan mostly anak Indonesia. Setiap Kamis, rela-rela gak main sepeda, biar pas majalahnya tiba, langsung bisa masuk ke dunia Bobo & keluarga, Cerita dari Negeri Dongeng bersama Oki & Peri cantik Nirmala, juga Bona Gajah Kecil Berbelalai Panjang.

Aku pikir, jatuh hati sama buku ketika usia dewasa, emang gak ada salahnya. Tapi jika cinta tumbuh sedari awal, cinta yang ada bisa mengakar lebih kuat, susah dilengserkan dengan kesenangan lain, termasuk canggihnya gadget sekalipun.

Cara Mudah Menjaga Laut Indonesia Saat Pandemi Melanda



Selama pandemi mewabah, hal apa yang paling kamu kangenin?

Kalo aku, nggak lain nggak bukan adalah main ke laut, mandi di pantai.

Sebagai orang yang lahir & besar di Bengkulu yang dikelilingi pantai-pantai cantik, selama ini aku nggak perlu berusaha keras untuk menikmati indahnya pantai. Pantai Panjang, pantai paling mahsyur di Bengkulu, lokasinya dekat pusat kota dong. Tinggal melipir sejenak, udah bisa duduk-duduk santai bahkan puas mandi di air laut yang segar. Melepas penat, sembari menikmati es kelapa muda & hidangan laut fresh yang sudah dibumbui rupa-rupa. Duh, kangen berat!


Kalau baru aja lepas dari deadline kerjaan yang bikin stress, biasanya tinggal lari ke pantai, main seharian. Melangkahkan kaki telanjang di pasir pantai & mendengarkan suara samudera selalu berhasil memberikan ketenangan emosional. Pulang-pulang, perasaan udah lega, bebas stress, tenang.

Pengalaman Ikut Rapid Test Covid-19



Ketika ambulance dari Dinkes masuk ke pekarangan kantor dan para tenaga kesehatan mulai turun, airmataku rembes juga. Gak tahan. Ini pertama kalinya aku secara live melihat nakes dengan APD lengkap berikut hazmat. Hati nyilu, sedih, deg-degan. Telapak tangan mulai dingin, berkeringat, gemetar ..

Semalam aku bolak balik nanya ke suami, apakah harus rapid test atau nggak. Sejujurnya grogi berat. Kalau ternyata reaktif, hidup bakal punya tantangan baru toh. Harus isolasi mandiri, harus ikut pemeriksaan lanjut, belum lagi harus menghadapi stigma ini itu. Rasanya nggak siap. Suami membebaskan, aku boleh ikut test kalau siap, tapi kalau belum-belum rasanya udah mau pingsan, aku bisa nenangin diri dulu.

Besoknya aku memutuskan untuk ikut rapid test. Meluk suami dulu sambil nangis. Dan sekarang lihat nakes pakai hazmat, aku nangis lagi. Duh cengeng!

“Dek .. hei gakpapa!”

5 Ide Ngabuburit Asyik di Rumah Saja

Bukber. Bukber tahun kemarin :')


Tidak pernah terbayang akan menjalani Ramadhan model begini. Sama sekali tidak pernah. Ramadhan yang aku kenal sedari kecil, templatenya adalah jalan-jalan pagi setelah sholat subuh, berburu takjil, buka puasa bareng teman-teman, ibadah di masjid dengan riang gembira. Tapi setelah corona datang & belum tau kapan perginya, ‘the new normal’ mau gak mau, suka gak suka, harus kita jalani juga. Bekerja, belajar & beribadah di rumah saja. Keluar rumah hanya untuk urusan urgent, seperti membeli bahan makanan atau ke apotek.

Pastinya tidak mudah menjalani perubahan drastis seperti ini. Di awal pandemi, aku pun sempat denial & ujung-ujungnya malah migrain. Haha. Rindu bebas ke sana kemari, rindu ngantor dengan konsep normal, rindu bisa menghadiri event ina itu, rindu hari-hari sebelum adanya pandemi. Tapi, bukan cuma aku kan yang mengalami situasi ini? Lagian, kita bisa apa selain menerima, lalu belajar beradaptasi dengan keadaan baru. Apalagi di bulan Ramadhan begini, tidak layak rasanya lebih banyak berkeluh kesah dibanding beribadah, apalagi masih banyak hal-hal yang bisa disyukuri. Seperti nikmat sehat, bahan makanan yang masih ada di kulkas, gaji bulanan yang masih mengalir, kesempatan untuk bersama-sama orang yang disayangi. It’s enough.