Featured Slider

2020 Rewind

 

Meski 2020 banyak banget dramanya, tapi tahun 2020 tetap jadi tahun spesial buatku. Tahun di mana akhirnya aku menikah, menempuh hidup baru, yang ternyata emang benaran baru. Hidup tidak lagi memikirkan mimpi diri sendiri, tapi berkolaborasi bersama suami & Insya Allah bersama anak-anak nanti. Aku ingin mengingat 2020 dalam memori yang baik. Here we go, 2020 rewind versi aku.

Januari 2020

Pertama kalinya aku ngambil cuti di awal tahun, seminggu full. Balik ke Lubuk Durian, nenangin hati, mau nyiapin printilan nikah. Deg degan parah sih. Aku nulis di buku catatan banyak banget sebagai sarana healing, apa-apa yang harus aku siapin, gimana budgetingnya, apa aja yang bikin aku khawatir dan gimana solusinya. Waktu berlalu cepet banget deh tuh di Januari. Cemas campur excited!

Februari 2020

Lamaran. Sederhana aja, karena pengen menghemat budget hehe. Niatnya simpen-simpen uang buat honeymoon ke Malang & Jogja, tapi ternyata apa daya, jangankan honeymoon, rencana resepsi pun berantakan karena pandemi. Nangis sih lihat ribuan undangan yang akhirnya dibuang. Padahal ngonsep sendiri tuh sama Kak Albeth, sampe puyeng, tapi akhirnya kebuang sia-sia. Menangis huhu! Andai bisa diulang, aku mau bikin acara lamaran yang proper, terus mau prewedding juga ahahaha.

Review Seri Benda Langit Bercerita : Bulan (Erlita Pratiwi)

 


Kalau bukan karena sudah dicekoki buku bacaan sejak kecil, boleh jadi kecintaanku sama buku gak akan sebesar sekarang. Dulu, pas pertama kali bisa baca umur 4 tahunan, sering banget dibeliin buku yang lucu-lucu. Di mana banyakan gambar, dibanding tulisannya, itu pun singkat-singkat. Tapi rasa cinta buku rasa-rasanya berawal dari masa itu. Lalu semakin tumbuh dan berkembang saat mulai kenal & langganan majalah Bobo, majalah kesayangan mostly anak Indonesia. Setiap Kamis, rela-rela gak main sepeda, biar pas majalahnya tiba, langsung bisa masuk ke dunia Bobo & keluarga, Cerita dari Negeri Dongeng bersama Oki & Peri cantik Nirmala, juga Bona Gajah Kecil Berbelalai Panjang.

Aku pikir, jatuh hati sama buku ketika usia dewasa, emang gak ada salahnya. Tapi jika cinta tumbuh sedari awal, cinta yang ada bisa mengakar lebih kuat, susah dilengserkan dengan kesenangan lain, termasuk canggihnya gadget sekalipun.

Cara Mudah Menjaga Laut Indonesia Saat Pandemi Melanda



Selama pandemi mewabah, hal apa yang paling kamu kangenin?

Kalo aku, nggak lain nggak bukan adalah main ke laut, mandi di pantai.

Sebagai orang yang lahir & besar di Bengkulu yang dikelilingi pantai-pantai cantik, selama ini aku nggak perlu berusaha keras untuk menikmati indahnya pantai. Pantai Panjang, pantai paling mahsyur di Bengkulu, lokasinya dekat pusat kota dong. Tinggal melipir sejenak, udah bisa duduk-duduk santai bahkan puas mandi di air laut yang segar. Melepas penat, sembari menikmati es kelapa muda & hidangan laut fresh yang sudah dibumbui rupa-rupa. Duh, kangen berat!


Kalau baru aja lepas dari deadline kerjaan yang bikin stress, biasanya tinggal lari ke pantai, main seharian. Melangkahkan kaki telanjang di pasir pantai & mendengarkan suara samudera selalu berhasil memberikan ketenangan emosional. Pulang-pulang, perasaan udah lega, bebas stress, tenang.

Pengalaman Ikut Rapid Test Covid-19



Ketika ambulance dari Dinkes masuk ke pekarangan kantor dan para tenaga kesehatan mulai turun, airmataku rembes juga. Gak tahan. Ini pertama kalinya aku secara live melihat nakes dengan APD lengkap berikut hazmat. Hati nyilu, sedih, deg-degan. Telapak tangan mulai dingin, berkeringat, gemetar ..

Semalam aku bolak balik nanya ke suami, apakah harus rapid test atau nggak. Sejujurnya grogi berat. Kalau ternyata reaktif, hidup bakal punya tantangan baru toh. Harus isolasi mandiri, harus ikut pemeriksaan lanjut, belum lagi harus menghadapi stigma ini itu. Rasanya nggak siap. Suami membebaskan, aku boleh ikut test kalau siap, tapi kalau belum-belum rasanya udah mau pingsan, aku bisa nenangin diri dulu.

Besoknya aku memutuskan untuk ikut rapid test. Meluk suami dulu sambil nangis. Dan sekarang lihat nakes pakai hazmat, aku nangis lagi. Duh cengeng!

“Dek .. hei gakpapa!”