#CobaLagi

Ikan Sejerek, Bere Secupak

Senin, September 15, 2014


Senja di sekitaran Pantai Panjang Bengkulu, terukir cantik. Orange langit, matahari yang perlahan menenggelamkan diri, deburan ombak yang bergerak lincah, merupakan kombinasi keindahan yang lebih dari mampu untuk memanjakan mata, menyejukkan hati. Namun sayang, simfoni alam yang manis itu tak mampu membuat Yara mengukir senyum.

*minjem hasil jepretan Nidia (temen ngoceh di Swaraunib)

*minjem hasil jepretan kak Dika (partner kerja di LPP RRI)

“Eh Ra, kamu kenapa sih? Katanya kangen sama aku, pengen cerita-cerita, tapi dari tadi cemberut melulu. Kenapa?” Titin yang semula asyik dengan jagung bakar pedas manis dan es kelapa pesanannya, akhirnya sadar kalau sedari tadi wajah Yara diselimuti mendung. 

“Aku sebel.”

“Kenapa? Nggak punya duit?” Titin ngakak.

“Iya, baru pertengahan bulan gini uangku nggak nyampe seratusan ribu lagi.” ujarnya tanpa semangat.

“Seriusan kamu? Gaji kamu kan udah gede, Ra? Aku aja yang dapet duit masih nggak nentu setiap bulannya, masih bisa nyisihin duit buat celengan ayam di rumah.”

“Gaji gede apanya? Tuh gaji makin hari makin nggak cukup. Aku mulai mikir buat pindah tempat kerja deh, katanya ada radio swasta yang buka lowongan. Pejabat daerah yang punya, pasti gajinya cihui. Aku udah capek makan nasi bungkus saban hari, melototin diskonan baju-baju cantik yang ada mall. Pengennya makan di resto mahal, teruuss ..

“Rasa syukur kamu udah habis kelelep laut? Yara, semua penyiar radio di kota ini pengen banget kerja di radio milik pemerintah kayak kamu. Siaran dengan tenang, fasilitas oke dan gaji tetap yang nggak bikin ngelus dada. Kamu bilang gaji kamu kurang, heii .. apa kamu sadar kalo gaji temenmu ini nggak sampe 1/3 gajimu? Itupun nggak pasti setiap bulannya bisa diambil.” Titin geleng-geleng kepala, gemas rasanya melihat kelakuan Yara.

“Tapi kan Tin, aku pengen juga ngerasain hidup enak. Makan enak, beli baju mahal, pake mobil bagus, bisa ke salon tiap minggu ..


“Ra, yang namanya nafsu dunia nggak akan pernah ada ujungnya. Sekalipun ntar kamu punya gaji yang 10 kali lipat dari yang kamu punya sekarang, kamu juga nggak akan ngerasa cukup. Gini ya Ra, aku rasa bukan gaji kamu yang kecil, tapi rasa syukur kamu yang makin hari makin menciut.”

Yara mulai ciut nyali mendengarkan ceramah Titin. Dia terpekur, pura-pura memandangi pisang bakar pesanannya yang belum sedikitpun ia sentuh.

“Apa kamu lupa sama pepatah asli kota kita  ini Ra? Ikan sejerek, bere secupak (ikan seikat, beras seliter). Kamu tau kan apa artinya?”

“Aih, ikan sejerek, bere secupak, terus madar? Itu cuma berlaku buat orang malas dan cepat puas, Tin.” Yara cemberut lagi.

“Hahaaaa .. siapa suruh menambahkan kata madar (tidur) setelah pepatah apik itu, Ra? Sama sekali bukan seperti itu maksudnya. Ikan sejerek, bere secupak, mengajarkan kita tentang arti  hidup sederhana. Mengajak untuk tetap berbahagia dan melantunkan syukur meski rezeki duniawi yang diperoleh hanya berupa ikan seikat dan beras seliter.

Ikan sejerek, bere secupak, mengingatkan kita untuk tidak memaksakan diri memenuhi keinginan duniawi yang tanpa batas. Sekali lagi, ini tak lain dan tak bukan ajakan untuk bersyukur, merasa cukup dengan apa-apa yang telah dimiliki dan tidak bergelisah hati atas apa yang belum mampu dimiliki.

“Lagipula apa kamu lupa Ra, dalam QS Ibrahim (7), tertulis : sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.

Yara manggut-manggut mendengarkan penjelasan Titin. Senyum malu-malu akhirnya mengembang di wajahnya yang ayu.

“Jadi gimana, masih ngerasa kalo gaji kamu nggak cukup dan pengen pindah radio?”

“Ah nggak deh. Syukuri dulu gaji yang aku terima sekarang. Lagipula aku tiba-tiba teringat nasihat bunda : pendapatan akan bertambah seiring kemampuan yang meningkat. Betul nggak?”

Titin mengangguk, seraya menepuk pelan pundak Yara, sahabat sedari kecilnya itu. Lega rasanya telah mengingatkan Yara tentang rasa syukur. Rasa yang harusnya dimiliki masing-masing individu dengan mantap, agar tenang hati, agar terjaga diri.






You Might Also Like

10 komentar

  1. Kirain itu nama ikan yg bs dimakan, hihihi...

    Sukses kontesnya, Taaannn... :)

    BalasHapus
  2. kalau tak memiliki rasa syukur, memang bawaannya pengen segala macam punya ya... sukses ngontesnya Intan...

    BalasHapus
  3. Hehehe... kadang memang rasa iri itu bisa muncul, untung ada yg mengingatkan shg iri itu tidak tumbuh subur... :)

    BalasHapus

Makasih udah baca, tinggalin jejak dong biar bisa dikunjungin balik ^^

Fanspage Intan

Update via Email



Blogger Bengkulu

KEB

Warung Blogger

Warung Blogger

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan