Everyday Heroes : Menyeimbangkan Peran, Resilient Terhadap Tantangan

 


Salah satu bahan diskusi yang aku dan calon suami bicarakan sebelum menikah setahun lalu adalah .. 

“Apakah aku masih boleh bekerja jika nanti sudah menikah?”

Ini amat penting buatku. Karena aku belum pernah punya keinginan untuk berhenti bekerja. Aku senang bekerja. Apalagi 6 tahunan ini, pekerjaan & passionku berjalan beriringan. Selain untuk mencari uang, aku juga bekerja untuk mencari senang. Kalau ternyata jawabannya tidak boleh, aku perlu alasan yang amat sangat masuk akal & memang bisa aku terima, kenapa aku nggak boleh bekerja?

Tapi Alhamdulillah jawabannya ternyata boleh. Jadi diskusi pun bisa lanjut ke bagian-bagian lain tentang kehidupan berumah tangga. Seperti bagaimana pengelolaan keuangan nantinya, apakah akan menyatukan income atau seperti apa, kebiasaan hidup sehari-hari, dan lainnya. Kenal bertahun-tahun, lalu pacaran 2 tahun, bukan berarti bahasan yang begini bisa diskip begitu saja. Walaupun nyatanya pas menjalani, agak beda sama ekspektasi, seenggaknya kan udah pernah dijadiin bahan diskusi, tinggal dicari lagi titik tengahnya biar gak sama-sama emosi.

Untuk sebuah perjalanan yang semoga akan sangat panjang sampai menua bersama selama-lamanya, we can’t take it for granted. Butuh perjuangan. Nggak boong, kadang ada masa-masa di mana aku bener-bener jungkir balik struggling menjalankan peran sebagai perempuan bekerja & sebagai seorang istri di rumah. Aku nggak mau kerja setengah-setengah, kalo lagi di rumah pun aku gak mau nyari excuse untuk menghindari kewajiban-kewajiban aku. Memang sih, bukan hanya perempuan yang punya multi peran, laki-laki pun sama. Namun stigma dari society yang terlampau sering ngasih aturan begitu begini, sering melabeli jika ranahnya perempuan itu di urusan domestik saja. Kadang bikin pusing, tapi ya udahlah, let’s do our best & berbahagia tanpa harus jadi sosok sempurna. 


Take a break

Meski senang bekerja, bukan berarti aku senang dikuras dikuras energinya sampai lelah. Aku cinta banget sama konsep work life balance. Selain punya kerjaan di kantor, ada kehidupan lain yang juga menyenangkan untuk dijalani. Itulah mengapa sampai saat ini aku masih semangat blogging, karena ngasih escape dari dunia kerja & urusan domestik rumah tangga. Aku ketemu sisi lain dari aku yang bebas berpendapat dalam kata-kata. Aku juga senang nyari insight-insight baru dari buku-buku. Banyak hal yang aku nggak tau, namun ketika ketemu buku, cakrawala memang terbentang luas di depan sana. Buku juga mengobati rasa insecure. Di tengah gegap gempita serbuan informasi, baca buku tetap jadi yang paling menyenangkan. Sekalipun peran kamu rasa-rasanya gak cukup diberesin dalam 24 jam sehari, jangan lupa take a break, untuk kewarasan & kebahagiaan.

Love yourself


Cinta pasangan, wajib dong. Sayang sama pekerjaan, emang harus. Tapi sebelum itu, love yourself is a must. Mencintai diri sendiri harus ada di prioritas paling atas, setelah mencintai Tuhan. Bentuk mencintai diri seperti apa yang aku lakukan? Aku mensyukuri diriku & kesehatan yang aku terima dengan olahraga di pagi hari, berusaha makan makanan sehat, mencukupi kebutuhan beristirahat. Aku cinta aku dulu, baru deh bisa bagi cinta ke kamu. 

Enjoy the little things


Di tengah hiruk pikuk kesibukan sehari-hari, mensyukuri hal-hal kecil bisa bikin aku tetap survive dengan baik. Mendengar suara burung di pagi hari, menikmati teduh pepohonan hijau di siang hari atau melihat candy colored sky sambil berpelukan di penghujung hari, itu indah banget. Aku mensyukuri itu semua. Bersyukur membuat kita lebih bahagia saat menerima & ingin meneruskan rasa itu pada orang tersayang. 

Aku pengen selalu hidup dalam momen kini, saat ini. Tapi aku juga punya goals masa depan, goals yang baru bisa diraih dengan komitmen berkelanjutan. Berjalan pelan-pelan menuju ke sana. Karena aku percaya sejauh apapun tujuan itu, selama aku berada di jalur yang benar, nanti pada akhirnya akan sampai juga. Goalsku ingin bebas finansial. Setiap orang boleh mendefinisikan 2 kata itu menurut persepsi masing-masing. Bagiku, bebas finansial adalah ketika aku udah bisa punya income tanpa harus bekerja lagi. Walaupun nanti masih ingin bekerja, ya fix karena ingin saja, bukan lagi karena gajinya. Cara untuk mendapatkan passive income ini tentu aja macam-macam, punya usaha, punya kontrakan, investasi di pasar modal, dan lain-lain. Aku akan melakukan satu di antaranya & mencari keajaiban dunia ke-8, compounding interest. Hingga untuk daily life & travelling 3 bulan sekali (sambil bikin konten & menulis), aku udah nggak perlu bekerja dari 8-5. 

Karena aku percaya ketika aku udah selesai dengan diriku, ketika urusan finansial bukan problem yang bikin deg-degan, aku bisa kasih kontribusi dengan lebih leluasa. Entah di ranah apa nanti ketertarikan itu lebih mendominasi, tapi aku sangat ingin hidup untuk memberi arti. Semoga. Semoga 15 tahun lagi mimpi itu sudah mencapai titik terang. Aamiin. Aamiin yang kencang. 

Lucky me, karena aku hidup di masa kini. Masa di mana keberagaman & inklusi bagi perempuan sudah sangat didukung. Salah satu pihak yang sangat aware akan hal itu adalah FWD Insurance, pelopor asuransi jiwa berbasis digital di Indonesia. 8 Maret lalu, FWD mengajak perempuan Indonesia untuk merayakan hidup pada Hari Perempuan Internasional, sekaligus launching program #FWDCommunity Women & Youth bagi perempuan & anak muda Indonesia. 


Senang sekali karena aku bisa join di acara Women’s Gathering FWD Community Ladies Talk yang ‘daging’ banget. Ada narasumber-narasumber beken, 4 pemimpin perempuan di jajaran manajemen FWD Insurance. Randini Chief Marketing Officer FWD Insurance, Maria Magdalena Chief Governance Officer dan Direktur Kepatuhan FWD Insurance, Indrayana Agustsaputra Chief Bancassurance Officer FWD Insurance, dan Carol Mary Quertier Chief of Operations Officer FWD Insurance. Mereka nggak hanya ngasih ilmu, tapi juga ngasih inspirasi & kepercayaan diri. Menekankan bahwa perempuan memang berbeda, punya keunikan & keistimewaan masing-masing. Dengan kondisi itu, jangan sampai bikin kita rikuh, namun harusnya jadi sumber kekuatan untuk jadi best version diri kita masing-masing. Tentu aja untuk sampai di level itu, women empower women berperan penting. Jangan ada iri dengki ketika ada perempuan yang melesat cepat, namun kita harus bangga karena dia bisa, support dia, petik inspirasinya, melesat bareng-bareng untuk Bebaskan Langkah, Berani! Selamat Rayakan Hari Perempuan Indonesia untuk perempuan-perempuan hebat di negeri ini. :)



#FWDInsurance

#RayakanHariPerempuanIndonesia

#FWDCommunityLadiesTalk

#Bebaskan Langkah, berani!


30 comments

  1. Senang ya kalau kita diberi kebebasan dan disupport untuk berkarya, selama itu bukan untuk hal-hal yang negatif. Apapun kalau kita syukuri, akan sangat bernilai untuk kehidupan kita ya Mba. Begitu juga sebaliknya, kalau kita nggak pandai bersyukur, kehidupan yang ada akan selalu kurang terus.

    Perlu banyak cara untuk bisa seimbang dalam menjalani hidup ini ya, antara hobi, pekerjaan, me time, profesi dan lainnya memang perlu balance.

    Makasih sudah mengingatkan melalui artikel super keren ini Mba...

    ReplyDelete
  2. Hal ini sangat penting dibahas untuk semua calon pasangan yang ingin menikah ya kak, agar nantinya setelah menikah tak ada keributan dengan topik itu lagi itu lagi.
    Karena sebagian dari kita perempuan ada yang ingin tetap berkarir setelah menikah. Biasanya para suami ada yang mengizinkan dan ada juga yang melarang dikarenakan supaya bisa lebih fokus dalam peran nya sebagai ibu rumah tangga. Dan apapun itu intinya udah kesepakatan bedua tuk solusi terbaik

    ReplyDelete
  3. Program yg dilakukan FWD ini bagus banget ya. Mengajak perempuan utk terus berperan penting, mulai dari keluarga, masyarakat, hingga lingkup yg lbh luas lagi

    ReplyDelete
  4. Wiwin | pratiwanggini.netMarch 30, 2021 at 11:01 AM

    Saya juga memilih hidup yang seimbang. Menjadi ibu untuk dua anak, menjadi istri untuk satu suami, tetap bekerja full time (tentu saja atas ijin suami), namun di luar itu saya juga menjalankan hobi saya (menulis dan membaca). Alhamdulillah, so far so good. Semoga ke depannya juga demikian. :)

    ReplyDelete
  5. Memang perlu sekali ini, sebelum melangkah menuju gerbang pernikahan, harus bicata dari hati ke hati.Jadi saat sudah mengarungi bahtera rumah tangga, tidak ada kesalahpahaman lagi. Termasuk kebebasan atau boleh tidak istri bekerja setelah menikah. Dan bagus sekali acara FWD ini ya, Mbak. Membuat perempuan Indonesia berani untuk bebas melangkah.

    ReplyDelete
  6. Mencintai diri sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Tuhan YME, maka membahagiakan diri memang penting dan semoga acara seperti ini terus dilangsungkan, untuk saling menyemangati sesama perempuan

    ReplyDelete
  7. sama mba saya waktu sebelum menikah juga bicarakan masalah pekerjaan, cuma bedanya saya meminta tetap bisa bekerja dirumah saja dan gak mau dipaksa untuk bekerja di kantor hehe karena memang lebih suka wiraswasta

    ReplyDelete
  8. Senang deh bacanya ntan. Apa-apa yang dijalani memang penting didiskusikan dulu biar nantinya nggak saling nyalahin.
    Terus ya betul perempuan selain dia jadi istri dan ibu dia layak buat punya impian dia sendiri, semoga ya beberapa tahun kedepan bisa terwujud impiannya ntan
    Yang penting bahagia ngejalaninya

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah, senang sekali kalo suami mau ngasih kebebasan untuk tetap bekerja ya kak.
    Rasanya pasti gak sumpek karena masih bisa bersosialisasi dengan teman satu kerjaan.
    By the way, gerakan woman empower women keren banget ini. Kita sesama wanita memang harus saling dukung.

    ReplyDelete
  10. Tulisannya menginspirasi sekali...
    Selamat hari perempuan internasional...
    Semangat bebaskan langkah :)

    ReplyDelete
  11. Mengenai mencintai diri sendiri, aku benar-benar berpikir itu harus. Karena ada seorang di sekitar rumahku. Cewek. Dia terlalu mencintai orang lain, hingga nggak memikirkan bagaimana maruah seorang cewek. Banyak orang mengingatkannya. Tapi dia merasa cuek bebek.

    Hmm.. Aku jadi berpikir. Andai cewek ini berpikir untuk mencintai dirinya terlebih dahulu, mungkin dia akan berhati-hati dalam bersikap.

    Tapi biar bagaimana pun, aku bersyukur dia menikah dengan orang yang dia cintai. Berharap kehidupannya akan lebih baik dan terus baik kedepannya.

    ReplyDelete
  12. Aku juga sama casenya kaya mba. Aku rentan stress kalau gak kerja ckckck. Thx 4 sharingnya ya mba <3

    ReplyDelete
  13. Yes kak, jangan ada iri dengki ketika ada perempuan yang melesat dalam pekerjaannya. Atau apapun itu.
    Kita wajib saling dukung antar sesama perempuan. Untuk bisa berdaya bersama.

    ReplyDelete
  14. Suka banget dengan work life balance nya ya Mbak, trus tetap memprioritaskan cinta pada diri sendiri juga ya, jadi dengan diri yang penuh cinta maka seisi rumah akan menerima efek cintanya kita ya gak... FWD Insurance, noted.

    ReplyDelete
  15. Aku setuju banget dengan obrolan di awal nikah tuh yaaa mengenai perizinan apakah masih boleh bekerja atau lebih suka istri di rumah aja. Tentang kesediaannya membantu pekerjaan rumah tangga atau tidak. Masalah pengelolaan keuangan dan lain sebagainya penting untuk dibahas di awal sebelum menikah yaa

    ReplyDelete
  16. Asik bet adanya FWD sangat bisa memiliki rasa kepercayan diri dan menikah membuat kemudahan terhadap tantangan

    ReplyDelete
  17. aku kenal suami ketika masih SMA, dan doi sudah kerja. Dulu, juga ada pembicaraan apakah aku boleh kerja atau tidak, dan hasilnya tidak. Setelah nikah, baru aku sadar hikmahnya, yaitu aku punya tiga anak dengan jarak dekat. Gak kebayang kalau ku tinggal kerja, sementara kami ada di perantauan...

    ReplyDelete
  18. Lucky you, Mba.

    Aku pun suka banget sama konsep work life balance dan terus memperjuangkannya. Bahkan pilihanku untuk menjadi freelancer sejak jelang punya bayi. Beruntung, semua sudah kupersiapkan semampuku saat calon pasangan saja belum ketemu.

    Semoga semangat selalu ya Mba. Sakinah mawaddah wa rahmah.

    ReplyDelete
  19. Mantap mba. Suamiku dlu juga ga masalah bekerja ketika sudah menikah. Bahkan sampai aku hamil 8 bulan juga masih kerja di rs. Hehe. Tapi begitu punya anak, semuanya ambyar. Bener2 harus memilih karena ga mungkin bisa ke handle dua-duanya. Kecuali pengasuhan anak dipegang oleh pihak ketiga entah daycare, nenek atau baby sitter. Ya life is a Choice, dan semua pilihan ada konsekuensi nya. Makanya saya selalu kagum dg perempuan yg bisa berkarir. kenapa? Karena artinya dia kompeten dan ada suport sistem di belakangnya

    ReplyDelete
  20. Berdua kerja = income double 😄

    ReplyDelete
  21. Bener banget Intan..sejauh apa pun tujuan kalo kita jalannya sesuai jalurnya pasti akan nyampe juga... Beda kalo gak punya tujuan yak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oiya.. selamat hari Perempuan Internasional ya.. Semoga perempuan di mana pun berada semakin maju dan sukses semua

      Delete
  22. Bahagia itu ketika pasangan mendukung untuk berkreativitas tanpa mengesampingkan tugas wajib sebagai istri. Memberi kebebasan berekspresi dengan batas2 tertentu. Selamat menikmati hidup, tan...

    ReplyDelete
  23. Suka baca komitmen Intan dan suami. memang harus dibicarakan.
    Terus .;.. setuju bahwa perempuan memang berbeda, punya keunikan & keistimewaan masing-masing. Kalau ada yang bekerja atau tak bekerja (di luar rumah atau di dalam rumah), bukanlah hal yang perlu dipertentangkan, justru harus saling dukung.

    ReplyDelete
  24. Suka deh baca tulisannya penganten baru dan liat suami mendukung kerjaan istrinya. Semoga langeng selalu ya mbak..

    ReplyDelete
  25. Setuju banget dengan konsep work life balance karena ini konsep yang membuat kita bisa menimbang prioritas mana yang paling mendekati win win solutions, terutama untuk kesejahteraan diri secara mental juga

    ReplyDelete
  26. wah, sama mbak. pas sebelum nikah saya juga tanya ke calon suami, boleh tetep kerja nggak. Ini penting banget buat aku, nggak soal uang aja, tapi kebebasan aktualisasi diri

    ReplyDelete
  27. Untungnya dek Ntan emang udah siap menikah ya. Udah tau harus ngapain aja di kehidupan setelah menikah. Hahaha.. Semangat semangat berdaya!

    ReplyDelete
  28. Sepakat, bahasanya mengalir. Keseimbangan menjadi point yang aku garisbawahi karena relevan dengan kondisiku juga. Perempuan itu memang multitasking. Everithing is gonna be fine

    ReplyDelete
  29. Bagian mencintai diri sendiri kadang memang masih kurang, dan kadang nuga masih memaksakan beberapa hal utk dilakukan sendiri, tulisan ini bisa mengingatkan nih...

    ReplyDelete

Makasih udah baca, tinggalin jejak dong biar bisa dikunjungin balik ^^