Yuk, Pergi ke Tempat Wisata di Korea Selatan yang Menarik dan Seru untuk Dikunjungi


Ekspansi kebudayaan yang dilakukan pemerintah Korea Selatan melalui musik, drama, fashion dan juga perawatan wajah dinilai berhasil, yang akhirnya menarik banyak wisatawan untuk berkunjung. Dan ternyata semua didukung dengan pemandangan alam yang luar biasa indah.

Selain itu, tempat wisata di Korea Selatan pun memiliki ragam yang banyak. Mulai dari wisata alam, kuliner, belanja dan juga wisata budaya. Karenanya, Traveloka memberikan beberapa rekomendasi untuk tempat wisata Korsel di Traveloka.com.


Myeongdong

source:travelweekly-asia.com

Niat ke Korea Selatan untuk berbelanja produk perawatan wajah dan kecantikan, maka kawasan ini adalah surganya. Di sepanjang jalan, kamu akan menemukan banyak toko kosmetik dengan harga promosi dan juga sampel gratis.

Jika kamu penggemar produk kecantikan asal Korea, kamu pasti akan kegirangan karena bisa dengan mudah menemukan semua brand kosmetik Korea, mulai dari Etude House, Innisfree, Laneige, hingga IOPE yang tentu harganya jauh lebih murah dibandingkan di dalam negeri.

Yang paling menuntungkan untuk wisatawan adalah, hampir semua toko di Myeongdong bebas pajak. Jadi, syaratnya adalah kamu cukup meperlihatkan paspor untuk dilakuakn pemotongan pajak secara otomatis.

Pulau Nami


source:flickr.com
Nami island adalah tempat tujuan wisata yang populer di Korea Selatan. Pulau ini sangat menarik karena bentuknya yang menyerupai bulan separuh. Berlokasi di Provinsi Gangwon. Tempat ini semakin populer karena dijadikan tempat syuting drama Korea Winter Sonata

Di pulau ini kamu juga bisa menemukan patung pemain Winter Sonata yang menjadi spot wajib berfoto ditempat ini, Datanglah pada saat musim gugur, karena pemandangannya akan menjadi lebih cantik dengan warna daun berubah menjadi kemerahan. Untuk mencapai pulau Nami, kamu bisa menggunakan kapal Fery dari Gapyeong Naru

Petite France


source:createtrip.net
Dari namanya kamu pasti sudah menebak jika ini adalah area wisata yang bernuansa Perancis. Tak salah memang, karena mulai dari bangunan hingga asitekturnya semua bernuansa Perancis. Tahukah kamu, jika Petit France merupakan taman yang didedikasikan untuk tokoh Little Prince.

Di sini juga ada hall khusus yang didedikasikan untuk Antoine de Saint-Exupery si penulis novel Le Petit Prince. Meski tempatnya tak begitu besar, dan bisa dieksplore dalam waktu singkat, namun di sini kamu bisa menemukan banyak spot untuk berfoto ria, dan berselfie. Karena keunikan dan keindahan tempat ini, Petite France sering dijadikan lokasi syuting film seperti Beethoven Virus, My Love From, Secret Garden, dan juga reality show Running Man.

Puncak Seongsan Ilchulbong


source:wikipedia.org
Tempat wisata di Korea Selatan ini juga tak kalah unik, karena kemunculannya yang tiba-tiba dari dalam laut. Hal ini terjadi akibat dari letusan gunung berapi lebih dari 100.000 tahun yang lalu. Tempatnya berada di timur Pulau Jejudo.

Di Puncak ini juga ada kawah besar yang berdiameter 600 m dan ketinggian 90 m, yang dibawahnya terdapat 99 batu karang tajam yang tampak seperti mahkota raksasa.


Di sini kamu bisa berkuda sambil melewati jembatan yang menghubungkan Puncak ini dengan Seongsan Village. Selama berkuda, kamu akan bisa melihat pemandangan yang luar biasa indah dengan tebing dan bukit yang dilapisi dengan rumput yang berwarna hijau. Waktu yang tepat mengunjungi tempat ini adalah saat musim semi, karena saat Matahari terbit dari kawah menerpa bunga canola terlihat begitu cantik dan memesona.

Cerita Lebaran 1438 H : Lihat, Dengar dan Rasakan

Dalam hidup, kita memang butuh banyak melihat, mendengar dan merasakan. Tujuannya agar lebih bisa bersyukur. Agar lebih bisa menghargai hari-hari yang barangkali sering kita keluhkan “kok hidupku begini doang?”. Pertanyaan “kok hidupku begini doang?”  sebenarnya menjadi tanda bahwa hidup kita stabil dan itu patut disyukuri.

Dulu, lebaran di rumah bersama ibu bapak adalah hal yang biasa. Biasa banget. Apanya yang wah? Emang udah begitu kan seharusnya lebaran? Pulang ke rumah, bantuin ibu masak kue, dibumbuin dengan pertengkaran-pertengkaran kecil karena anaknya ini malesan sedangkan si ibu pengennya kalo bisa dikerjain hari ini kenapa harus besok? Bantuin beberes rumah, walau gak ada perabotan baru seenggaknya rumah kinclong. Riweuh berhari-hari, padahal yang datang sih cuma tetangga kiri kanan, calon besan ibu malah belum kelihatan hilalnya. Haha


Lebaran mulai berubah bagiku sejak tahun 2014, waktu itu aku udah serius kerja di dunia broadcasting sebagai penyiar radio. Waktu libur amatlah random sejak itu buatku. Nggak ada lagi tuh happy melihat tanggal merah. Lah, emang kalo tanggal merah, siaran radio off? Tapi masih beruntung sih, tahun 2014 itu, aku bisa pulang pas malam takbiran. Setidaknya bisa sholat Id bareng ibu bapak. Lebaran ke-2 udah siaran lagi dong. Uye.

Tahun 2015, aku udah pindah tugas ke studio di kabupaten, terpisah jarak kurang lebih 240 km dari orangtua. Gak jauh-jauh amat, tapi udah lumayan ribet dan mahal kalo mau pulang kampung. Dulu sih, modal bensin seliter doang mah udah bisa nyampai rumah. Tapi belum pedih banget nih. Yang paling pedih itu justru kejadian tahun kemarin, lebaran di rantau, gak bisa pulang. Aku yang udah nguat-nguatin diri, pas hari lebaran akhirnya jebol juga pertahanan. Nangis-nangisan bareng ibu bapak via telepon. Pahit men. Lebaran pertama kali gak makan daging kecap buatan ibu.

Makanya, lebaran tahun 2017 alias 1438 H ini, bagiku sangat menyenangkan. Aku bisa pulang ke rumah. Aku bisa lebaran dengan seharusnya. Beberapa hari sebelum mudik, aku ikutan antri di salon buat perawatan. Standar, sekedar luluran, creambath sama facial, biar pas nyampe rumah, terlihat fresh. Jangan sampai kucel dan terlihat lelah, sungguh aku gak mau bikin ibu khawatir, bisa-bisa izin merantau dicabut oleh beliau.




Namanya juga tinggal di pojokan ya, salon yang lumayan rame cuma ada satu, itu pun antrinya udah uwow panjang sekali. Akhirnya, aku bagi-bagi waktu perawatannya. Lulurannnya hari A, creambathnya hari B, facialnya hari C. Dan FYI, creambathnya itu dapat slot mendekati tengah malam. Haha gelo emang. Mana milih yang mint pula. Kebayang gak gimana dinginnya kepala waktu creambath kemarin itu? Menggigil.

Untuk urusan beli baju lebaran, Alhamdulillah, sejak kerja, udah gak minta ibu lagi. Jadi ya sekarang itu tingkat kedewasaan dalam urusan megang uang sungguh diuji. Uang THR mau bablas dibeliin baju semua sih silahkan, tapi emang bisa abis lebaran  beli bensin pake daun? Hehe. Udah gak kayak zaman sekolah lagi sih beli bajunya yang “Ini buat lebaran pertama. Ini buat lebaran kedua.” *kemudian ngejejerin baju baru sampe buat lebaran ke tujuh.

Makin berumur makin ngerti juga kalo nyari duit itu susah. Jadi ya standar saja. Belinya dress buat sholat, mukena, sama wedges (karena kebetulan hak wedges yang baru dibeli beberapa bulan sebelumnya, patah. Huhu). Udah itu aja. Beres. Aku milih belanja online aja sejak seminggu sebelum lebaran. Beli langsung di Bintuhan? Gak bisa men. Kotanya cilik banget ini. Gak punya mall. Beli di Bengkulu? Beuh, Bengkulu padat banget mah kalo jelang lebaran. Gak yakin sanggup sempit-sempitan di 2 mall yang dimiliki Bengkulu. Terima kasih untuk online shop, berkat kamu, belanja baju lebaran ala aku bebas drama.



Lebaran tahun ini juga makin banyak yang manggil “aunty Intan”. Hehe. Temen-temen yang udah nikah duluan, anaknya makin gede nih sekarang, udah bisa nagih “THR dong aunty.” Jadi, PR sebelum mudik selanjutnya adalah nuker uang di bank. Yey. Tidak mepet banget sama lebaran lah nuker menukernya, takut nominal uang tertentu keburu abis. Aku nuker uang sekitar seminggu sebelum lebaran. Masih dapat yang pecahan dua ribu, lima ribu sama sepuluh ribuan. Nukernya juga di bank cabang, tidak pakai antri Alhamdulillah. *karena kebetulan tellernya temen SDku *karena kebetulan pas aku dateng, emang lagi sepi aja sih

Selain nyiapin THR, tugasku selanjutnya adalah jajan kue. Tahun ini aku beli beberapa kotak bipang asli Padang Guci. Cemilan gurih manis-manis asem ini, beberapa kotak aku kasih ke ibu, buat bantu ngisi meja tamu kami pas lebaran. Beberapa kotak lagi aku anterin ke rumah ibu bos kesayangan dan sebagian lagi untuk oom bos yang sekarang lagi bertugas jadi koordinator di tempatku tugas. Menyoal bipang ini, hmmm .. sebenarnya ada kisah sedihnya.



Yang ngikutin cerita-cerita di blog ini, mungkin tau kalo kemarin-kemarin aku deket sama anak ibu bos. Ngg, bukan deket aja deng. Katakanlah pacaran. Dan pacaran serius. Karena sudah bahas nikah-nikahan, juga udah diajakin ke rumah buat kenalan sama ibunya aku. After menutup hati lumayan lama, aku mau mulai lagi ngurusin soal perasaan, karena yaa … tujuannya serius. Goalnya adalah menikah. Waktu ngedeketin aku, dia bilang “aku nyari calon istri, bukan mau pacaran sebentar aja sama kamu, Intan.” Aku sudah membayangkan enaknya gak perlu drama-dramaan menghadapi mama mertua. Karena aku udah duluan akrab banget sama mamanya, baru kemudian kenal sama anaknya. Tapi ..

Tapi urusan jodoh emang misteri sih. Kalo memang tidak digariskan semesta untuk bersama, ada-ada aja jalan pisahnya ya kan? Nggak cukup sekedar punya perasaan yang sama. Nggak cukup sekedar asik pas lagi jalan bareng. Nggak cukup janji-janji yang ternyata tidak bisa ditepati. Intinya .. hubungan kami memburuk. Ketika aku pulang dan bisa mampir ke rumahnya dengan modus adalah nganterin bipang untuk mamanya, aku nggak ketemu sama dia. Sedih ya? Which is, aku sih pengennya apa pun itu dikomunikasikan dulu baik-baik. Biar plong. Siapa tau malah bisa dibenerin. Tapi ya gitu deh, marahannya anak tunggal dan anak bungsu benar-benar terbaik. *senyum kecut

Sedih? Iya lah. Lebaran udah ngebayangin ngajakin dia ke rumah lagi. Ngenalin ama bapak. Karena pas dia ke rumah pertama kali itu, belum ketemu sama bapak. Terus ntar gantian aku yang ke rumah dia. Kenalan sama keluarganya dalam lingkup yang lebih luas lagi. Tapi ngimpi deh, jangan kan yang begitu, sekedar telepon atau WA aja kosong sampe sekarang. Tragis banget gak sih ini? Agak bikin trauma gak sih? Hehe. Udah udah, intinya belum jodoh. *keep strong *keep smile *jangan smile yang kecut hehe




Pas lebaran, ada mantan gebetan dan mantan beneran yang main ke rumah (datengnya gak barengan kok). Pikiran aku kemana-mana. Ngebayangin kalo yang datang itu dia. Ngobrol banyak. Ketawa-tawa.  Ada perih yang lumayan bisa aku rasakan dari dalam sana, dari bagian hati yang pernah dia isi. Manusia doyan banget begini ya .. seringkali lebih fokus dengan apa yang udah hilang dibanding dengan apa yang ada di depan mata. Di sela-sela obrolan bareng orang-orang itu, aku dengan dudulnya masih sempat membatin “Kalo dia, dia pasti bakal begini. Senyumnya begini. Dia pasti bakal milih duduk di sofa yang itu”. Ckkk Intaaan!

Sungguhlah, putus cinta di usia mepet 24 tahun itu rasanya gak enak. Bukan cuma aku yang sedih, tapi keluarga juga. Pengennya kan anaknya ini bisa nikah dalam setahun dua tahun ini. Tapi apa daya, sampe sekarang masih sibuk jungkir balik di zona meninggalkan dan ditinggalkan nih. Huhuu

Lebaran tahun ini masih penuh dengan pertanyaan “Kapan nikah? Udah ada calonnya?” dan pertanyaan sejenis. Jangankan orang lain, aku sendiri kadang gemes dengan kisah yang aku punya. Tapi ya pertanyaan dan omongan orang tidak perlu ditelan mentah-mentah. Toh yang paling tau usaha dan cerita di baliknya ya cuma kita sendiri. Orang lain gak akan pernah benar-benar paham, wong mereka gak merasakan.

Lebaran tahun depan udah bareng suami belum ya?

Gak tau. Gak mau matok dan gak mau stress menyoal jodoh. Usaha & doa jalan terus, sambal mengurangi kadar kabaperan dan meningkatkan kadar rasionalisme. Nikah itu perjalanan seumur hidup. Aku gak mau cuma karena desakan orang-orang yang pernah ngasih makan aja nggak, akhirnya pasrah menikah sama siapa aja. Haha. Jangan lah. Atuh, didoain Intannya bisa menikah sama orang yang Intan sayang, dianya menyayangi Intan juga, gak akan kabur kalo udah tau sisi annoyingnya Intan dan bisa ngajakin jadi best version dari diri masing-masing.

Btw, kalo kamu gimana nih cerita lebaran tahun ini? Ditanyain apa? Kapan lulus kuliah? Kapan kerja kantoran? Kapan nikah? Kapan punya anak? Kapan nambah anak? Wkwkw. Santai ya shay. Kita gak bisa nutup mulut orang, tapi bisa nutup telinga kita atas pertanyaan-pertanyaan yang gak pengen kita dengar.

Jangan lupa bersyukur dan banyakin senyum! :)





Ramadhan di Bintuhan, Ramadhan yang Tidak Perlu Berhitung “Berapa Jam Lagi sih Buka Puasa?”


Cie judulnya. Hehe

Ramadhan tahun ini seru ya?

Alhamdulillah. Ini Ramadhan tahun ketiga yang aku jalani di kota rantau, Kota Bintuhan, Bengkulu. Namun baru kali ini yang bener-bener berasa serunya. Dari puasa pertama udah sibuk bukan main. Jadwal siaran masih sama kayak hari-hari biasa, justru makin padat karena sekarang pake jatah piket ramadhan. Tugasnya macem-macem. Kadang jadi host dialog mutiara ramadhan, kadang turun ke pasar beli takjil. Haha. Seruuuu. Tau-tau udah jam buka puasa aja. jadi beneran gak sempet yang mati gaya kebosanan terus menghitung detik demi detik berlalu.

“BUKA PUASA JAM BERAPA SIH?”

No way.




Untuk lengkapnya, begini kurang lebih detail kegiatan yang aku jalani sehari-hari selama bulan Ramadhan 1438 H ini.

Sahur Tanpa Ribet

Ternyata sahur rame-rame cuma terjadi di hari pertama puasa doang. Waktu itu aku dibangunin jam setengah 4 dan rasanya masih diawang-awang. Huah. Jam tidurku kurang. Maka yang terjadi selanjutnya, aku pasang alarm jam 4 dong. Biar agak lamaan dikit jatah tidurnya. Biar praktis, aku sahur pake buah. Demi apa, bukan sok-sok pengen kurus (ehm kalo turun 5 kg sih Alhamdulillah hehe) tapi emang sahur pake buah sangat menolong. Tinggal kupas-kupas, iris-iris, lalu lep. Seger. Gak pake drama ngantuk-ngantuk lagi selepas sahur.

Biar murah meriah dan kenyang, biasanya aku kombinasikan buah yang rada mahal kayak naga, apel dan pir dengan buah-buahan lokal murah meriah kayak pisang, mangga dan pepaya. Dengan buah beraneka rupa seperti itu, kenyangnya lebih awet. Yeay. Oh iya, sebelum makan buah jangan lupa secangkir kecil air jeruk nipis hangat yang gunanya untuk mendetoks hati dan tubuh.

Tapi pernah nih kejadian, aku buka mata pas ada bunyi gini dari masjid deket kost

“WAKTU IMSAK TINGGAL 10 MENIT LAGI.”

WHAT?

Langsung lompat dari tempat tidur, terus buka kulkas dan langsung mengeksekusi pir. cuma sempat makan pir doang mah. Karena pas aku minum air mineral udah balapan aja sama sirene imsak. Ckck. Tapi Alhamdulillah masih sempet sahur, yang penting kan niatnya, bukan porsinya. *sound ngeles? Haha

Sahur hari pertama pake daging
Sahur hari ke sekian langganan ngunyah buah doang

Ngoceh 5 jam, tenggorokan gak kering?

Nggak dong. Tapi aku siasatin dengan mengurangi ngobrol heboh sama temen-temen kantor. Selama Ramadhan Intan jadi lebih kalem. Okesip. Lagian menghindari gosip menggosip juga ya kan? Sampe temen-temen protes karena pas mereka cerita aku Cuma respon pake senyum. Akhirnya kepaksa deh ngomong ..

“SORRY .. INTAN SEDANG DALAM MODE HEMAT ENERGI NIH.”

Siaran juga jadi lebih hati-hati sih. Ketawa heboh diskip, bahasan gak penting juga disingkarkan. Bahas dan sharing hal-hal bermanfaat saja. Tapi pernah nih ada sms pendengar yang bikin ngakak sekaligus bikin pikiran jadi kemana-mana. Masa katanya ..

“INTAAAN.. SUARA INTAN KOK KAYAK DONAT? EMPUK!”

Aku ngakak terus lapar. Membayangkan donat dengan toping double chocolate. OMG. Mana sms itu masuk pas jam makan siang. Ada-ada aja sih MZ!

Gak pernah nolak buka puasa di kantor

Yaiyalah. Daripada buka puasa di kost dan mandangin langit-langit kost mending buka puasa di kantor yakan? Mungkin yang paling semangat dengan sistem piket ramadhan cuma aku sih ya. Yang lain mah sedih karena banyakan buka di kantor ketimbang di rumah. Inget anak lah. Inget suami lah. Aku pernah sih beberapa kali inget sama Gary, terus iseng ngeWA

“KAMU SINI DONG. BUKA PUASA BARENG AKU.”

Terus dibales,

“KALO OTW SEKARANG, NYAMPE BINTUHAN UDAH SAHUR KALI AH.”

Haha. Oke. Namanya juga lagi try luck contesting 180 km distance. Ahelah. 180 km doang ya? Yang terpisah beda pulau, beda negara, beda zona waktu juga banyak dan bisa survive. *pasang iket kepala

Piket Ramadhan di acara Mutiara Ramadhan

Tapi nanti, suatu hari nanti, aku juga bakal merasakan sedihnya buka puasa tidak bersama dengan keluarga di rumah. Sekarang nikmatin aja, masih muda ini. Masih bisa diandalkan untuk piket ramadhan di kantor tanpa ngeluh-ngeluh. Tanpa sedih-sedih.

((Baca juga : Cerita Bareng Gary))

Taraweh di Al-Kahfi dan beneran ketagihan

Dengan lokasi kost yang terletak di pusat kota ((cieee pusat kota bener, sist?)), aku bisa memilih dengan bebas mau sholat taraweh di masjid yang mana. Dan dari awal, aku emang udah niat mau taraweh di Al-Kahfi, masjid paling gede di Bintuhan. Dan kesampaian. Lokasinya yang ‘sekali ngegas’ doang dari kost, memotivasi banget biar rajin taraweh. Pernah sih absen karena hujan dan telat pulang dari kantor, selebihnya, aku masih dalam mode full energy. Di sana juga biasanya ada ceramah singkat sekitar 10 menit abis sholat Isya. Ceramahnya kece, jadi betah dengerin.

Alasan lainnya karena .. taraweh dan witir di Al-Kahfi hanya 11 rakaat saja. *penting! Heheeeee

Intan sholat taraweh sama siapa? Kadang bareng Maya, tapi lebih sering nyolo. Not bad lah, kan mau sholat bukan mau rumpi. Jadi posisi sholatnya random. Kadang sebelahan sama ibu-ibu, kadang sama yang sebaya, pernah sebelahan sama anak-anak SMP (kayaknya) terus mereka ribut aja sepanjang sholat. Hampir kesel sih, tapi bernostalgia lagi.

“AH SUDAHLAH, ZAMAN SMP AKU JUGA PERNAH KAYAK GINI.”

*lalu berasa sudah tua. *masa SMP sudah jauuuuh sekali tertinggal di belakang

--

Meski sangat menikmati ramadhan tahun ini, tentu aja aku juga gak sabar pengen pulang ke rumah. Pengen sahur dan buka puasa bareng ibu bapak, pengen masak kue. Tapi sayang, paling juga aku bisa pulang H-1 atau H-2 lebaran. Lebaran ke-2 atau ke-3 paling udah balik lagi ke Bintuhan. Kerja lagi. Siaran lagi. Mencari uang lagi. Alhamdulillah .. gak pengen ngeluh. Gak boleh ngeluh.

Diberi kesehatan, diberi waktu luang, diberi rezeki yang mengademkan hati, diberi kesempatan menikmati ramadhan tahun ini ... dan so much berkah dari Nya. Cukup. Aku nggak mau minta yang anu ini itu. Ini sudah menyenangkan.

Tapi kalo tahun depan udah balik ke Bengkulu sih pasti lebih menyenangkan heheeee. Aduh aku suka envy deh lihat kegiatan beragam yang diadakan sama temen-temen Blogger Bengkulu. Ku pengen ikutan semua eventnya. Tapi kalo pulang terus sayang uang ongkosnya, mending buat beli lipen. huhuuu

Btw, teman-teman, gimana Ramadhan kalian tahun ini? Seru kah? Belum ada bolong puasanya?




Tulisan ini dibuat untuk menjawab tantangan Blogger Bengkulu dalam #NulisSerempak tentang #RamadhandiBengkulu


Cerita Ramadhan 1438 H #1 : Belajar Ikhlas, Karena Rezeki Bukan Hitungan Matematika

Assalamualaikum.

Gimana puasanya kemarin? Oke? Lancar jaya? Aku sih oke, nggak berasa kayak puasa pertama sih, karena berminggu sebelumnya aku sibuk bayar hutang puasa tahun kemarin. Hah, baru bayar mepet-mepet Ramadhan? Iya. Nyesel deh. Insya Allah hutang yang tahun ini bakal dibayar sesegera mungkin, termasuk hutang-hutang lainnya. Karena punya hutang bikin hidup jadi resah. *lirik hutang arisan link :(

Btw, Ramadhan tahun ini rasanya memang berbeda, baper sih, tapi menyenangkan kok. Posisi aku lagi di Bintuhan - Kaur, jadi anak rantau, ngekost pula. Tapi, Tuhan emang baik, setiap skenarionya oke. Aku tetanggaan sama anak-anak yang seru. Pak polisi semua (dan masih single semua). Haha. Kecuali yang kamarnya persis di samping aku. Mereka sih pengantin baru. Bisa dibayangkan, anak gadis yang akhir tahun ini 24 tahun, tetanggaan sama pengantin baru? Bisa dibayangkan mupengnya, maksudnya. Okesip.

Tapi gimana pun bapernya aku denger mereka sayang-sayangan, mereka adalah tetangga yang baik dan itu rezeki. Kalo lagi baperan, aku tau harus memperlihatkan muka melas kemana, terus bakal dapat wejangan seru dari Maya (padahal aku lebih tua setahun dari dia, tapi pemikirannya udah uwow, wajar aja Maya duluan nikah yaa). Dan Maya juga tau, kalo ada yang pengen diceritain, penting gak penting, bahkan yang sereceh-recehnya sekalipun, bisa diceritain ke tetangga sebelah tanpa was-was bakal kena judge ini itu anu. Haha.

Kemarin, puasa pertama, kami sahur bareng, rame-rame. Yang masak Maya lah. Dia ini jago masak, karena ya udah kenal kompor dari kecil, papanya Maya punya usaha tempat makan di Bengkulu. Maya masakin kami dendeng, Alhamdulillah ya.. padahal aku kemarinnya lagi cuma bengong ngelihatin orang rame banget jualan daging di Lapangan Merdeka. Bengong karena pengen makan daging, tapi gak bisa masaknya. Sedih. Pukpuk Intan. – walo ujung-ujungnyanya, tadi malem aku beli daging kijang sekilo. Hasil buruan temennya temen aku di kantor. dan daging itu masih teronggok menyedihkan di kulkas. Kalo dimasak kecap semua gimana deh? Suka-suka Intan aja lah ya.

Pas aku cerita ke Asri (temen kantorku) kalo aku gak bisa masak daging, dia semacam yang ..

“KAMU GAK BISA MASAK DAGING? INI YANG KATANYA TAHUN DEPAN MAU NIKAH SAMA GARY?”



Aku nyengir doang sih. karena kata mamanya Gary, Gary mah bukan picky eater, dikasih nasi sama sambel doang juga udah doyan. *berpotensi jadi istri kejam. Haha. Canda ah Gar!

Balik lagi soal sahur nih. Intan kadang emang bikin malu. Mana lah makan tinggal makan, Maya (dibantu Popo) juga yang sibuk bangunin, gedor-gedor pintu kamar. Sampe pegel katanya. Aku tidur kayak orang mati. Haha. Mana lagi pas buka pintu kamar, muka aku aneh, kayak mau nangis. Diketawain berjamaah. Kalo bangun tidur (dan durasi tidurnya kurang), aku emang suka kayak gitu. Berasa masih di awang-awang.

Abis sahur, perut kenyang, telponan sebentar sama pacar. Dari sekian banyak yang diomongin, ada satu bagian yang bikin aku senyum malu-malu ampe siang – bahkan pas aku nulis ini, aku masih senyum lebar. Ish ckck.

Intan : “Sayang .. sayang, tahun depan jangan kek gini lagi ya.”

Gary : “Maksudnya gimana?”

Intan : “Yaa jangan telponan lagi lah. Kita sahur bareng. Udah tinggal serumah gitu.”

Gary : “Iya sayang.” *aku bisa denger kalo di ujung sana, Gary ngomong “iya” pake senyum.

Intan : “Beneran loh? Tahun depan yaaa.”

Gary : “Iya sayang. Aman. Tahun depan.”

Intan : “Asik! Bulan berapa?”

Gary : “Jangan ditanyain bulan berapa lah, yang penting tahun depan.”




JADI .. JADI .. ENAKNYA NIKAH BULAN BERAPA, GAES? HAHA

Abis telponan dan puas nendang-nendang guling saking salah tingkahnya, aku merenung bentar. Bisakah kami mengejar tahun depan? Biaya nikah nggak murah sama sekali dan kami ini pasangan yang gengsinya rada melangit kalo harus nadah banget sama orangtua. Iya emang sih menikahkan anak itu urusan orangtua. Apalagi aku anak tunggal, Gary anak bungsu, harusnya gampang ya? Tapi kok kayaknya nggak seru? Perjuangannya gak dapet. Belum lagi soal DP rumah, pengennya aku kalo nikah ya udah harus punya rumah sendiri. Sebodo tipe 36. Sebodo lahannya sempit. Pokoknya punya rumah dulu. Digedein sama-sama. Dan mobil. Penting banget. Aku yang sendirian ini aja ngebet banget punya mobil karena berasa butuh. Apalagi kalo udah nikah kan.

Setahun nabung bareng buat nikah, DP rumah & mobil, bisa gak ya?

Aku manyun.

Banyak banget duit yang harus dikumpulin.

Aku harus bantuin nabung.

Emang sih kata orang, rezeki orang nikah itu ada-ada aja. Tapi kalo kami mau realistis, boleh kan?

Deg-degan deh kalo udah bahas masa depan.

Well, tapi balik lagi, urusan rezeki (dan jodoh, dan maut) adalah hak prerogratif Dia. Kita bisanya berencana & berusaha, Dia yang menentukan. Soal Gary aja, aku sempat yang “Kalo tidak jodoh, apa nanti aku harus kenalan sama orang baru lagi? Capek rasanya. Pengen neduh di yang ini aja selamanya.” Ketakutan ini juga yang bikin aku jadi baperan beberapa minggu lalu. Takut Gary berubah pikiran, takut Gary suka sama yang lain (drama LDR), takut jalan kami berkelok banget. Tapi kemudian aku nyoba berbaik sangka, pokoknya nyantai aja, jadikan Gary sebagai teman baik, jadi Intan yang lebih baik, hasilnya? Kita lihat nanti. Kita bukan cenayang.

Omong-omong mengenai rezeki yang misteri, kemarin aku baru ngalamin ini banget. Ini soal job buzzer susu B, tau kan? Aku daftar pake 5 akun. Sebut saja akun A, B, C, D, E. Nah, aku udah pede banget nunggu brief di email A, ngecek tiap hari sampe ke folder spam. Berminggu-minggu berlalu tapi gak kunjung datang tuh si brief. Nah, kemarin aku iseng cek email akun B, ada dong briefnya dan itu SEMINGGU LALU. Hangus deh hangus. Terus pas cek akun E, dapet email juga. KYAAAA. Rasanya pengen ngebegoin diri sendiri, kenapa aku gak ngecek seluruh email yang aku daftarin coba? Hadeuh OON.

Ada lah sekitar sejam yang manyun-manyun sebel. WA Gary, niatnya mau ngadu. Minta dibujuk dan dipukpuk. Tapi jawaban Gary bikin tambah sebel .... awalnya.

“UDAH DEH YANG. NAMANYA BELUM REZEKI.”



Begitu doang. Gak ada bujukan. Gak ada pukpuk. Aku disuruh diem. Haha. Sialan emang. Tapi kemudian aku mikir, masa sih aku sampe badmood seharian gara-gara uang 1 jutaan? Sedangkan kalo mau hitung-hitungan rezeki dari blog dan sosmed ada kali nyampe 10an juta (est 2013). Sebanding gak? Jadiin aja pengalaman penting, jangan sampe lalai ngecek semua email yang didaftarin kalo someday ada job lagi. Jangan sok kepedean nunggu di satu akun doang. Sometimes, pengalaman & pelajaran jauuuuh lebih mahal dari uang. Iyain aja deh, biar cepet kelar ini curhatnya. haha

Terus terus, aku inget lagi, beberapa hari lalu aku dapet rezeki gak terduga dari kantor. which is berurusan sama sosmed juga dan kerjaannya gak berat sama sekali. Dan nominal fee-nya beda tipis lah. Astaghfirullah .. sempat-sempatnya kesal & meratapi rezeki yang gak jadi digenggam, padahal Tuhan udah ganti dengan cara yang menyenangkan, dengan pekerjaan yang sama sekali gak memberatkan.

Jadi gaes, ikhlas itu emang susah sih, apalagi ngikhlasin sesuatu yang kita pengen banget, yang kita kejar banget. Tapi kalo kita mau lihat dari sudut yang lebih luas, mata dan hati kita pasti kebuka deh. Pasti. Lagian rezeki itu bukan serupa hitungan Matematika. Kadang arah datangnya gak kita sangka sama sekali. Berdoa aja, berusaha aja, kalo rezeki gak akan kemana. Kalo Intan jodohnya sama Gary ya tahun depan bakal menikah juga.

EH GIMANA? XD