Life

Untuk Adik yang Pernah Ku Benci

Jumat, Februari 05, 2016




Hai adik.

Apa kau ingat cerita tentang kita belasan tahun lalu? Saat kau baru saja menghirup udara di bumi, saat umurku baru 9 tahun, saat aku begitu membencimu karena satu alasan yang menurutku saat itu melebihi kata benar : kau merebut mamaku. Kau merebut kehidupanku.  

Atas alasan itu, saat sesekali liburan dan punya kesempatan menengokmu, tak pernah aku mencium pipimu seperti seharusnya, tak pernah aku menggendongmu sebagai kakak. Malah kadang diam-diam, aku mencubitmu dengan cukup keras. Tentu saja tanpa sepengetahuan mama. Andai mama tau beliau mungkin tak akan memarahiku, melainkan memandang kita berdua dengan wajah penuh luka. Itu yang aku tak mau. Aku tak ingin mama sedih. Cukuplah sedih menjadi milikku kala itu.

Pun tahun-tahun berikutnya, aku tak peduli saat kau beranjak besar. Aku tak cemas saat mendengar kabar kau kecil digigit anjing liar saat bermain di halaman rumah nenek kita. Aku tak pernah menanyakan kabarmu, sudah kelas berapa? Sudah bisa apa? Apa kau ingat bahwa aku adalah kakak tirimu? Haha. Bagiku itu sama sekali bukan hal penting, dik. Aku tak pernah menganggap kau ada. Kau tak lebih dari sekedar perusak mimpi-mimpi bahagiaku. Kau tau, aku menyimpan tumpukan benci untukmu saat itu. 

Saat adikmu yang di kemudian hari ku panggil ‘bungsu’ hadir, hubungan kita pun tak secuil pun membaik. Untuk apa? Toh kita punya kehidupan masing-masing. Kau sudah puas karena mama menjadi milikmu dan bungsu kan?

Time flies ya, dik.

Tau-tau umurku bertambah, tau-tau isi kepalaku semakin dewasa, tau-tau takdir memaksaku untuk bersinggungan cerita denganmu. Ku akui, memang Tuhan penulis skenario yang maha menakjubkan.

Sesekali aku terpaksa menginap di rumah mama. Di rumah milkmu. Di rumah milik bungsu. Oh bukan. Bukan terpaksa, tapi aku memang menginginkannya. Entah sejak kapan isi kepala dan hatiku melunak. Entah di detik mana, mataku tak lagi berkilat marah saat melihatmu.

Dan hari ini dik, sebuah peristiwa menegurku. Sebuah peristiwa memaksaku untuk mengakui bahwa aku bukan hanya tak lagi menyimpan benci, melainkan aku menyayangimu dengan sangat dan sungguh takut kehilanganmu.

Aku masih di kantor, saat handphoneku berdering. Mama menelpon.

“Halo ma ..”

Yang terdengar malah isakan panik.

“Maa .. halo ..”

“Nanang belum pulang.” Ujar mama terisak.

Aku melirik jam tangan, pukul 15.47 WIB.

“Main PS kali ma. Kan belum terlalu sore juga.”

“Nanang nggak pernah kayak gini. Mama udah nyusul ke sekolah. Temen-temennya les, tapi dia gak ada. Mama mau ke rumah om, minta bantuan.”

Deg.

Aku terpaku menatap handphone. Mau tak mau hatiku dirayapi rasa cemas yang tak sedikit. Aku tau kau anak baik. Aku tau kau tak pernah terlambat pulang seusai sekolah. Kalau sudah sesore ini kau belum pulang, berarti .....

Oh Tuhan!

Aku yang biasanya menyukai hujan, mendadak dibuat gamang karena curah air yang jatuh ke bumi itu. Aku ingin segera ke rumah, ikut mencarimu. Tapi otakku masih mengandalkan logika. Menempuh jarak 30 kilometer dengan curah hujan yang tak sedikit, bisa membahayakanku, bukan malah bisa menolongmu.

Pukul 18.10 WIB

Setelah beberapa kali menelpon mama dan tak ada jawaban, akhirnya telponku diangkat.

“Halo ayuk.. ada apa yuk?”

Aku tertegun. Hei, itu suaramu kan dik?

“Ini Nanang kan? Deeekk.. kamu kemana aja?”

Kamu pun bercerita singkat kejadian tadi siang. Saat motormu dicegat seorang pemuda bertubuh besar. Laki-laki sialan itu mengaku minta antar ke suatu tempat, kau setuju, namun berjam-jam lamanya kau malah diajak berputar-putar tak tentu arah. Lantas semakin jauh dan jauh dari rumah kita. Kau mengeluh ingin pulang, kau takut mama kita marah, kau juga kelaparan, tapi laki-laki itu hanya berkata “nanti!”.

Aku tak bisa membayangkan andai keluarga kita lamban bergerak. Andai sepupu kita tak gesit menemukanmu. Akan sejauh apa kau dibawa. Akan selapar dan selemas apa yang kau rasakan. Oh dik, aku cemas, sekaligus mengucap syukur tak hingga karena kini kau telah tiba di rumah.

Dengar, aku tau kau baik hati -hal yang sangat aku sukai dari kamu. Tapi jangan sesekali gunakan kebaikanmu untuk orang asing yang berniat mencelakaimu di jalanan. Jangan lekas percaya, dik. Jangan terlampau, baik.

Doaku untukmu, semoga keselamatan selalu dilimpahkan untukmu.
Aku menyayangimu entah sejak kapan, dik. Tapi aku berjanji akan selalu menyayangimu. Menebus tahun-tahun yang aku gunakan untuk menaruh benci padamu.

You Might Also Like

4 komentar

  1. waah, itu orang jahat banget ya kak, kok bisa bisanya minta anterin, Nanangnya terlmpau baik juga. Untung tdk trlambt mnmukannya.

    semoga trus menyayangi adkny y kk, mmperbaiki tahun tahun dlu :)

    BalasHapus
  2. kirain Intan anak tunggal, tan.

    BalasHapus
  3. Intan... surat ini menyentuh tiap katanya. Aku suka... Intan sekarang jadi kakak yang baik. :)

    BalasHapus
  4. Kami adalah perusahaan yang terdaftar, meminjamkan uang kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan keuangan mendesak, dan mereka yang telah ditolak kredit dari sana bank karena skor rendah kredit, pinjaman bisnis, pinjaman Pendidikan, mobil pinjaman, kredit rumah, kredit perusahaan (dll), atau untuk membayar utang buruk atau tagihan, atau yang telah scammed oleh pemberi pinjaman sebelum uang palsu? Selamat, Anda berada di tempat yang tepat, dapat diandalkan Pinjaman Perusahaan Ibu Kelly untuk memberikan pinjaman dengan tingkat bunga yang sangat rendah dari 2% telah datang untuk mengakhiri semua masalah keuangan Anda sekali dan untuk semua, untuk informasi lebih lanjut dan pertanyaan hubungi kami melalui email perusahaan kami: kellywoodloanfirm@gmail.com
    Terima kasih
    Terima kasih dan Tuhan memberkati
    Ibu kelly

    BalasHapus

Makasih udah baca, tinggalin jejak dong biar bisa dikunjungin balik ^^

Fanspage Intan

Update via Email



Blogger Bengkulu

KEB

Warung Blogger

Warung Blogger

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan